Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

RI Gandeng Polandia! Strategi Baru Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Ancaman Global

RI Gandeng Polandia! Strategi Baru Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Ancaman Global
RI gandeng Polandia! Strategi baru perkuat ketahanan pangan di tengah ancaman global. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Pemerintah Indonesia mulai memperluas kerja sama internasional di sektor pertanian dengan Polandia sebagai langkah strategis menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Kolaborasi ini difokuskan pada peningkatan produktivitas, penguatan ketahanan pangan, serta pengembangan teknologi dan investasi pertanian berkelanjutan.

Langkah tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat menerima kunjungan Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Polandia Małgorzata Gromadzka di Jakarta.

"Saya menerima Wakil Menteri Pertanian Polandia, kaitannya bagaimana kita memperkuat hubungan bilateral, khususnya di bidang pertanian dengan Polandia," kata Sudaryono.

Fokus kerja sama strategis

Sudaryono menegaskan bahwa Indonesia terus membuka diri terhadap kerja sama global demi menjaga stabilitas pangan nasional.

Menurutnya, momentum kerja sama ini juga sejalan dengan peluang perdagangan internasional, termasuk dengan kawasan Uni Eropa.

"Indonesia adalah negara yang terbuka. Kita nonblok dan kita kerja sama dengan siapapun, termasuk mengambil kesempatan yang besar. Kita ingin kerja sama dalam hal ini, kerja sama dagang antara ekspor-impor dan kemudian hal-hal yang lain yang barangkali bisa termasuk investasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah kondisi global yang dipenuhi ketidakpastian akibat konflik dan gangguan rantai pasok, kerja sama antarnegara harus lebih konkret dan terarah.

“Kita berbicara tentang bagaimana kita bisa meningkatkan kerja sama antara negara-negara dalam bidang perdagangan, investasi, hingga penelitian, dan sebagainya," tutur Wamentan.

Bahas komoditas dan standar perdagangan

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas peluang perdagangan berbagai komoditas unggulan.

Polandia menawarkan ekspor produk seperti daging sapi, susu, gandum, hingga buah berry.

Sementara itu, Indonesia menekankan pentingnya pemenuhan standar kesehatan, sertifikasi veteriner, serta proses audit sebelum membuka akses pasar.

Untuk komoditas tertentu seperti unggas, pemerintah tetap berhati-hati demi menjaga keamanan hayati dan melindungi produksi dalam negeri.

“Terutama agrikultur yang sangat penting, karena agrikultur artinya makanan, bagaimana kita bisa mengamankan makanan kita untuk Indonesia, dan juga bagaimana negara lain, seperti Polandia juga bisa menjaga makanan mereka untuk mereka sendiri,” tegasnya.

Bentuk tim teknis percepat implementasi

Sebagai tindak lanjut, kedua negara sepakat membentuk kelompok kerja teknis guna mempercepat penyelesaian berbagai protokol perdagangan, termasuk untuk komoditas daging sapi dan produk susu.

Tim ini akan berperan dalam mempercepat proses audit, penyelarasan standar, hingga implementasi kerja sama secara langsung setelah seluruh persyaratan terpenuhi.

Selain itu, peluang kerja sama juga akan diperluas melalui pertemuan pelaku usaha, penjajakan investasi, hingga kemungkinan penandatanganan nota kesepahaman antar pemerintah.

Polandia lihat potensi besar Indonesia

Di sisi lain, Małgorzata Gromadzka menyambut positif peluang kerja sama ini.

Ia menilai Indonesia dan Polandia memiliki karakteristik sektor pertanian yang saling melengkapi.

“Saya sangat senang dapat berkunjung di Indonesia dan dapat berdiskusi tentang produk pertanian, kita bekerja sama dalam pertukaran produk agrikultur,” ujarnya.

Ia juga menyoroti posisi Polandia sebagai pintu masuk ke pasar Eropa, sekaligus melihat Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Asia.

“Saya percaya kita memiliki banyak kesempatan untuk meningkatkan kerja sama bilateral,” kata Małgorzata Gromadzka.

Ke depan, kerja sama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga menciptakan hubungan yang lebih seimbang dan berkelanjutan, terutama dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global yang semakin dinamis.

Advertisement
Advertisement
Advertisement