Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Rupiah Lebih Tangguh dari Mata Uang Negara Tetangga, Posisinya Menguat 0,52 Persen ke Rp17.205 per Dolar AS

Rupiah Lebih Tangguh dari Mata Uang Negara Tetangga, Posisinya Menguat 0,52 Persen ke Rp17.205 per Dolar AS
Rupiah Lebih Tangguh dari Mata Uang Negara Tetangga, Posisinya Menguat 0,52 Persen ke Rp17.205 per Dolar AS

PEWARTA.CO.ID — Nilai tukar Rupiah menunjukkan performa positif di tengah tekanan pasar global yang masih fluktuatif. Pada penutupan perdagangan sore sebelumnya, mata uang Garuda tercatat menguat sebesar 0,52% dan berada di posisi Rp17.205 per dolar Amerika Serikat.

Penguatan ini menjadi sinyal positif sekaligus meredakan kekhawatiran pelaku pasar terkait kemungkinan pelemahan Rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar saat ini tidak mencerminkan adanya penurunan kualitas fundamental ekonomi nasional. Ia justru menilai posisi Rupiah masih relatif kuat jika dibandingkan dengan mata uang negara lain di kawasan.

“Saya melihat ini bukan tanda pemburukan atau dipicu oleh memburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain, kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand, dan lain-lain masih kuat,” ujar Purbaya, Sabtu (25/4/2026).

Lebih lanjut, ia memastikan bahwa kondisi dasar perekonomian Indonesia tetap terjaga dengan baik. Bahkan, pemerintah terus mendorong perbaikan struktural untuk memperkuat daya tahan ekonomi ke depan.

“Tapi yang jelas adalah fondasi ekonomi kita tidak berubah. Bahkan akan semakin cepat, karena kita akan semakin serius memperbaiki kendala-kendala di perekonomian,” lanjutnya.

Ekonomi Indonesia terus membaik

Optimisme terhadap stabilitas Rupiah juga didukung oleh target pertumbuhan ekonomi yang cukup agresif. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 mencapai 5,7%, sejalan dengan sasaran pertumbuhan tahunan di kisaran 6%.

Untuk mendorong capaian tersebut, berbagai langkah strategis disiapkan, salah satunya melalui percepatan realisasi belanja negara guna menjaga daya dorong ekonomi tetap optimal.

Di sisi lain, ketahanan ekonomi nasional juga terlihat dari indikator eksternal yang solid. Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut hingga awal 2026, yang menjadi salah satu penopang utama stabilitas ekonomi.

Faktor domestik turut memperkuat kondisi tersebut, di antaranya konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga, inflasi yang terkendali, serta pengelolaan fiskal yang disiplin.

Selain itu, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang relatif rendah dan kebijakan hilirisasi industri yang terus berlanjut juga menjadi fondasi penting dalam menjaga kestabilan ekonomi nasional.

Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah tetap optimistis bahwa nilai tukar Rupiah akan bergerak stabil dan mencerminkan kekuatan ekonomi Indonesia, meski menghadapi dinamika dan tekanan dari pasar global.

Advertisement
Advertisement
Advertisement