Fakta Mengejutkan! 64,5% UMKM Indonesia Dikelola Perempuan, Jadi Penopang Ekonomi Nasional
![]() |
| Fakta mengejutkan! 64,5% UMKM Indonesia dikelola perempuan, jadi penopang ekonomi nasional. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kini tak lagi sekadar simbol sejarah perjuangan perempuan.
Momentum ini berkembang menjadi refleksi penting atas peran perempuan dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi.
Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 64,5 persen atau setara 37 juta unit dari total 57 juta UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan.
Angka ini menegaskan kontribusi signifikan perempuan dalam menopang ekonomi keluarga sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional.
Perempuan jadi tulang punggung UMKM
Dominasi perempuan dalam sektor UMKM tidak hanya berdampak pada penguatan ekonomi keluarga, tetapi juga berperan besar dalam menciptakan lapangan kerja.
Sektor ini mampu menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja atau setara 97 persen dari total tenaga kerja nasional.
Artinya, usaha yang dijalankan perempuan turut membantu menekan angka pengangguran secara signifikan.
Berbagai sektor seperti kuliner, fesyen, kerajinan, hingga kecantikan menjadi ladang usaha yang banyak digeluti perempuan dan dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi.
Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan, Rusmin Amin, menyebut potensi ekonomi dari sektor ini sangat besar.
“Ke depan kami berkomitmen memperkuat peran perempuan melalui reformasi kebijakan perdagangan, peningkatan representasi dalam kepemimpinan, perluasan akses finansial, dan pelatihan berbasis digital,” tutur Rusmin.
Ia juga mengungkapkan bahwa nilai bisnis UMKM berpotensi mencapai hingga 130 miliar dolar AS, sehingga peluang ekspansi ke pasar global semakin terbuka lebar.
Legalitas dan literasi keuangan masih jadi tantangan
Meski memiliki peran besar, pelaku UMKM perempuan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam aspek legalitas usaha dan pengelolaan keuangan.
Guru Besar FISIP Universitas Airlangga, Jusuf Irianto, menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam mempermudah proses perizinan usaha.
Selain itu, peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi kunci agar pelaku usaha perempuan mampu mengelola bisnis secara berkelanjutan.
“Melalui pelibatan perbankan dan lembaga keuangan, pemerintah pun memberi layanan edukasi kepada kaum ibu pengusaha mikro mengelola keuangan lebih baik. Tak sekadar butuh modal usaha, pengusaha mikro juga harus paham dan terampil mengelola keuangan secara benar,” kata Jusuf.
Peran PNM dorong usaha perempuan naik kelas
Dukungan juga datang dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang fokus pada pemberdayaan usaha ultra mikro, khususnya bagi perempuan.
Melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar), PNM memberikan akses pembiayaan tanpa agunan sekaligus pendampingan usaha.
Hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 903.557 kelompok nasabah aktif dalam program ini, dengan seluruh anggotanya merupakan perempuan.
Program Mekaar tidak hanya memberikan modal, tetapi juga edukasi keuangan, budaya menabung, serta penguatan nilai gotong royong untuk menciptakan wirausaha tangguh.
Data dari Fisipol UGM pada 2022 menunjukkan dampak positif, di mana 71,86 persen peserta program mulai berperan aktif dalam pengambilan keputusan keluarga, termasuk dalam aspek pendidikan dan keuangan.
Momentum kartini dorong ekonomi inklusif
Peran perempuan dalam UMKM menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan ekonomi tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat luas.
Dengan dukungan kebijakan, akses pembiayaan, serta peningkatan kapasitas, perempuan Indonesia berpotensi terus memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Momentum Hari Kartini pun diharapkan menjadi pengingat bahwa perempuan bukan hanya pelaku usaha, tetapi juga motor penggerak ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.

