Bahaya Memendam Emosi, Kebiasaan Sepele yang Bisa Memicu Depresi
![]() |
| Ilustrasi. Emoji fake smile. (Foto: Dok. Stoica Adrian/Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Banyak orang memilih menyimpan perasaan sendiri saat menghadapi emosi negatif. Mulai dari rasa sedih, kecewa, marah, hingga cemas, semuanya dipendam demi menghindari konflik atau demi terlihat kuat di hadapan orang lain.
Padahal, kebiasaan memendam emosi justru dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan mental maupun fisik. Emosi yang terus ditekan bisa muncul sewaktu-waktu dalam bentuk ledakan amarah, stres berkepanjangan, hingga depresi.
Situasi ini sering kali terjadi tanpa disadari. Seseorang mungkin terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang berjuang menahan berbagai perasaan yang tidak pernah benar-benar disalurkan.
Contohnya, seseorang tetap tersenyum meski sedang sedih, namun tiba-tiba menangis karena hal kecil. Ada pula yang terus menahan kekesalan hingga akhirnya marah besar hanya karena persoalan sepele.
Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kesulitan menyampaikan kebutuhan emosionalnya kepada orang lain. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga berpotensi merusak hubungan sosial yang sehat.
Mengapa banyak orang memendam emosi?
Setiap orang memiliki alasan berbeda ketika memilih menekan perasaan mereka. Ada yang ingin segera melewati situasi sulit, ada pula yang menganggap emosinya tidak penting untuk disampaikan.
Sebagian lainnya takut dianggap lemah jika terlalu terbuka soal perasaan. Pada akhirnya, memendam emosi dianggap sebagai jalan paling aman dan mudah.
"Alasan mengapa kita terkadang atau sering kali memendam emosi kita bisa bermacam-macam, tetapi semuanya tampaknya berakar dari rasa takut akan kerentanan. Karena rasa takut inilah, kita bereaksi melalui tindakan emosional yang melindungi diri," kata Dr. Colleen Mullen, PsyD, LMFT dilansir dari Verywell Mind.
Menurut Dr. Mullen, banyak orang sejak kecil sudah terbiasa menekan emosi karena merasa tidak aman untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.
"Anak-anak itu bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang mengalami penindasan emosional," kata Dr. Mullen. "Penindasan, atau penghindaran, ekspresi emosional akhirnya terasa seperti takut ditolak, ditinggalkan, atau dinilai negatif."
Dampak memendam emosi bagi kesehatan mental
Menahan emosi dalam waktu lama dapat memberikan tekanan besar pada kondisi psikologis seseorang. Perasaan yang terus diabaikan bisa memicu stres dan kecemasan berkepanjangan.
Selain itu, seseorang juga bisa merasa tidak dihargai, tidak dipahami, hingga kehilangan rasa percaya diri dalam menjalani hubungan sosial.
Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi depresi yang semakin sulit dikendalikan.
Bisa memicu gangguan kesehatan fisik
Bukan hanya mental, tubuh juga dapat merasakan dampak dari emosi yang terus dipendam.
"Ada beberapa bukti bahwa memendam emosi dapat menyebabkan stres fisik pada tubuh," kata Dr. Mullen. "Stres yang ditimbulkan pada tubuh dapat meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung. Efek lainnya bisa berupa kesulitan mengingat."
Tekanan emosional yang berlangsung lama juga dapat berubah menjadi stres kronis. Dampaknya bisa berupa gangguan pencernaan, sakit kepala, nyeri otot, hingga menurunnya daya tahan tubuh.
Menghambat hubungan sosial
Keterbukaan emosional menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat. Saat seseorang terlalu tertutup, hubungan sosial pun sulit berkembang secara mendalam.
"Kontak antarmanusia dapat membantu menyeimbangkan sistem saraf kita dan memungkinkan perspektif yang lebih luas, melindungi kita dari terjebak dalam lingkaran ketakutan dan keyakinan yang salah," kata Shari Foos, MA, MFT, MS.
Tanpa adanya komunikasi emosional yang jujur, seseorang juga akan sulit merasa benar-benar dipahami maupun diterima oleh lingkungan sekitarnya.
Tanda seseorang sedang memendam emosi
Tidak semua orang sadar bahwa dirinya sedang menekan perasaan sendiri. Namun, ada beberapa tanda yang umum muncul ketika seseorang memendam emosi terlalu lama.
Beberapa di antaranya yakni merasa tidak dipahami oleh orang lain, sulit mendapatkan kepuasan dalam hubungan sosial, mudah marah, hingga menyimpan dendam.
Gejala fisik juga dapat muncul, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, atau detak jantung yang terasa lebih cepat.
Menurut Shari Foos, tanda-tanda tersebut juga bisa terlihat melalui bahasa tubuh seseorang.
"Tanda-tanda seseorang sedang memendam emosi dapat dideteksi dari pilihan kata, nada suara, dan bahasa tubuh. Beberapa individu mungkin juga tanpa sadar melipat tubuh mereka ke dalam, meremas tangan, mengetuk jari atau kaki, melirik ke sana kemari, atau menggelengkan kepala," kata Foos.
Ia menambahkan bahwa orang yang memendam emosi cenderung memberikan respons tertutup saat diajak berbicara.
"Respons mereka ketika ditanya sesuatu yang mendasar seperti, 'ceritakan tentang dirimu,' mungkin beragam, mulai dari jawaban sederhana 'Saya tidak tahu,' hingga upaya untuk mengubah topik pembicaraan, menghentikan percakapan, atau bahkan meninggalkan ruangan."
