Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Breaking News! AS Nyatakan Perang dengan Iran Telah Selesai

Breaking News! AS Nyatakan Perang dengan Iran Telah Selesai
Breaking News! AS Nyatakan Perang dengan Iran Telah Selesai

PEWARTA.CO.ID — Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan operasi militer terhadap Iran yang diberi nama Operasi Epic Fury telah resmi berakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (5/5/2026).

Operasi Epic Fury merupakan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang berlangsung sejak akhir Februari lalu. Dalam keterangannya, Rubio menegaskan tujuan utama operasi telah tercapai sehingga Washington tidak berniat melanjutkan perang ataupun memperbesar eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Perang dinyatakan selesai

Rubio menyebut tahap militer dari Operasi Epic Fury kini telah ditutup sepenuhnya. Ia mengatakan Presiden Donald Trump juga sudah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Kongres terkait berakhirnya operasi tersebut.

"Operasi telah berakhir. Epic Fury, Presiden (Trump) telah memberi tahu Kongres. Kita telah selesai dengan tahap itu," kata Rubio kepada wartawan, menggantikan Sekretaris Pers Karoline Leavitt, seperti dikutip dari TRT.

Menurut Rubio, operasi tersebut berhasil menghancurkan sejumlah kemampuan militer strategis Iran, khususnya terkait rudal balistik jarak pendek, fasilitas produksi, peluncur rudal, hingga kekuatan angkatan laut Teheran.

Ia menilai langkah tersebut membuat Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk membangun perlindungan bagi program nuklirnya.

"(Ini-red) pencapaian yang sangat substansial dan itulah tujuan operasi ini sejak hari pertama," ujarnya.

Rubio juga memastikan bahwa AS tidak memiliki agenda untuk memperluas konflik. Setelah fase militer berakhir, pemerintah AS kini mengalihkan fokus ke operasi baru bernama “Proyek Kebebasan”.

Program tersebut disebut bertujuan menjaga kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz melalui pengawalan defensif terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur strategis tersebut.

Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Rubio.

Ketegangan memuncak sejak Februari

Konflik di Timur Tengah meningkat tajam setelah AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Situasi tersebut kemudian memicu serangan balasan dari Teheran yang menyasar pasukan AS, Israel, serta sekutu Amerika di kawasan Teluk.

Selain itu, ketegangan turut berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.

Upaya penghentian konflik sempat dilakukan melalui mediasi Pakistan. Gencatan senjata mulai diberlakukan pada 8 April, namun perundingan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Meski demikian, Presiden Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu.

Di sisi lain, sejak 13 April lalu AS juga diketahui menerapkan blokade angkatan laut terhadap lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz.

Rubio mengklaim langkah tersebut memberikan tekanan besar terhadap ekonomi Iran dengan kerugian yang ditaksir mencapai USD430 juta per hari.

Fokus baru di Selat Hormuz

Dalam konferensi pers yang sama, Rubio menjelaskan bahwa “Proyek Kebebasan” berbeda dengan Operasi Epic Fury karena bersifat defensif.

"Ini bukan operasi ofensif; ini adalah operasi defensif," kata Rubio.

"Dan artinya sangat sederhana — tidak ada penembakan kecuali kita ditembak terlebih dahulu. Kita hanya akan merespons jika diserang terlebih dahulu."

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan baru antara AS dan Iran di kawasan Selat Hormuz. Meski sempat terjadi baku tembak di jalur laut tersebut, Rubio menegaskan gencatan senjata masih tetap berlaku dan operasi perang utama telah berakhir.

Rubio juga melontarkan peringatan keras kepada Iran terkait aktivitas di Selat Hormuz.

"Selat Hormuz bukan milik Iran. Mereka tidak berhak menutupnya dan meledakkan kapal serta memasang ranjau. Dan itulah yang telah mereka lakukan."

Ia menambahkan situasi tersebut tidak boleh dianggap normal dan harus segera ditangani.

"Itu tidak bisa dinormalisasi," katanya.

Advertisement
Advertisement
Advertisement