Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Fenomena Seagulling Ramai di Medsos, Hubungan Toxic yang Disebut Lebih Bikin Bingung dari Ghosting

Fenomena Seagulling Ramai di Medsos, Hubungan Toxic yang Disebut Lebih Bikin Bingung dari Ghosting
Fenomena Seagulling Ramai di Medsos, Hubungan Toxic yang Disebut Lebih Bikin Bingung dari Ghosting

PEWARTA.CO.ID — Istilah baru dalam dunia percintaan kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Setelah ghosting, breadcrumbing, hingga love bombing, kini muncul istilah “seagulling” yang disebut-sebut sebagai salah satu pola hubungan paling membingungkan secara emosional.

Fenomena ini banyak dibahas oleh generasi muda, terutama Gen Z, karena dinilai sering terjadi dalam hubungan modern di era digital. Seagulling menggambarkan seseorang yang tidak benar-benar ingin menjalin hubungan serius, tetapi juga tidak rela jika orang yang didekati dekat dengan orang lain.

Dikutip dari Psychology Today, seagulling merupakan perilaku yang dapat menguras emosi dan membuang waktu karena hubungan berjalan tanpa kejelasan arah.

Secara sederhana, pelaku seagulling biasanya tetap hadir dalam kehidupan seseorang melalui chat, perhatian kecil, atau ajakan jalan. Namun di sisi lain, mereka tidak pernah memberikan kepastian mengenai status maupun masa depan hubungan tersebut.

Istilah ini sendiri terinspirasi dari perilaku burung camar atau seagull. Burung tersebut dikenal kerap mengambil makanan meski sebenarnya tidak lapar, hanya agar makanan itu tidak dimiliki oleh burung lain. Perilaku tersebut kemudian dianalogikan ke dalam hubungan percintaan modern.

Tanda-tanda seagulling dalam hubungan

Fenomena seagulling sering kali sulit disadari karena pelaku tetap menunjukkan perhatian dalam kadar tertentu. Hal inilah yang membuat banyak orang bertahan meski hubungan tidak memiliki arah yang jelas.

Ada beberapa tanda yang umum terjadi dalam pola hubungan ini. Misalnya, seseorang masih rutin menghubungi atau mengajak bertemu, tetapi tidak pernah membahas komitmen secara serius.

Selain itu, pelaku biasanya memberi harapan kecil agar pasangannya tetap bertahan. Namun ketika ditanya mengenai kepastian hubungan, mereka cenderung menghindar atau memberikan jawaban menggantung.

Tanda lain yang cukup sering muncul adalah sikap posesif atau territorial saat orang yang mereka dekati mulai dekat dengan orang lain. Meski tidak ingin berkomitmen, pelaku tetap ingin menjadi pusat perhatian.

Hubungan seperti ini biasanya berjalan lama tanpa perkembangan berarti. Tidak ada kejelasan status, tetapi juga tidak benar-benar berakhir.

Penyebab seseorang melakukan seagulling

Ada beberapa alasan yang membuat seseorang terjebak dalam perilaku seagulling. Salah satunya adalah keinginan untuk tetap mendapatkan perhatian dan kenyamanan emosional dari orang lain.

Sebagian orang juga merasa memiliki kendali ketika mengetahui seseorang masih menaruh harapan kepada mereka. Situasi tersebut dapat menjadi bentuk validasi atau peningkatan ego karena merasa tetap diinginkan.

Di sisi lain, ada pula individu yang sebenarnya takut kehilangan seseorang, tetapi belum siap menjalani hubungan yang serius. Akibatnya, mereka memilih mempertahankan kedekatan tanpa memberikan komitmen yang jelas.

Karena itu, seagulling sering dianggap sebagai hubungan yang hanya memenuhi kebutuhan emosional secara sepihak.

Dampak negatif bagi kedua pihak

Fenomena seagulling tidak hanya merugikan korban, tetapi juga pelakunya sendiri. Bagi pihak yang dipertahankan tanpa kepastian, hubungan seperti ini dapat memicu kebingungan, rasa tidak aman, hingga sulit move on.

Banyak orang akhirnya menghabiskan waktu terlalu lama dalam hubungan yang tidak berkembang. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kesehatan emosional karena muncul rasa berharap yang terus dipelihara.

Sementara itu, pelaku seagulling juga berisiko kehilangan kesempatan untuk menemukan hubungan yang benar-benar cocok dan sehat. Mereka terus berada dalam pola hubungan yang tidak pasti tanpa membangun komitmen nyata.

Cara menghindari seagulling

Agar tidak terjebak dalam pola hubungan seperti ini, komunikasi terbuka menjadi hal yang penting. Seseorang perlu menetapkan batasan dan memahami tujuan hubungan sejak awal.

Selain itu, penting untuk memperhatikan konsistensi tindakan, bukan hanya kata-kata. Jika hubungan berjalan tanpa arah dalam waktu lama, tidak ada salahnya mempertanyakan kejelasan komitmen.

Memahami tanda-tanda seagulling juga bisa membantu seseorang lebih cepat menyadari apakah hubungan yang dijalani sehat atau justru hanya memberikan harapan semu.

Di tengah berkembangnya berbagai istilah dalam dunia dating modern, fenomena seagulling menjadi pengingat bahwa hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar kejelasan, komunikasi, dan komitmen yang saling menghargai.

Advertisement
Advertisement
Advertisement