Kasus DBD Meningkat di Indonesia, IDAI Imbau Anak Usia 4–18 Tahun Segera Vaksin Dengue
![]() |
| Ilustrasi: Pemberian vaksin dalam upaya pencegahan DBD pada anak. |
PEWARTA.CO.ID — Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut mendorong Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau masyarakat agar segera memberikan vaksin dengue kepada anak-anak sebagai langkah perlindungan tambahan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya.
Selain itu, siklus lonjakan kasus yang sebelumnya terjadi sekitar setiap 10 tahun kini berlangsung lebih cepat, yakni tiga tahun atau bahkan kurang.
DBD kini tidak lagi musiman
DBD kini dinilai tidak lagi menjadi penyakit musiman. Penyakit akibat infeksi virus dengue tersebut dapat muncul sepanjang tahun dan menyerang semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), mengatakan bahwa DBD memiliki karakteristik yang sulit diprediksi karena kondisi pasien dapat memburuk dalam waktu singkat.
“Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok. Selain itu dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran,” ungkap dr. Hartono dalam keterangan resminya.
Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Sekitar 75 persen kasus DBD tercatat terjadi pada kelompok usia 5 hingga 44 tahun. Sementara itu, angka kematian tertinggi mencapai sekitar 41 persen pada kelompok usia 5 sampai 14 tahun.
Menurut IDAI, tingginya risiko pada anak dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala penyakit.
Vaksin dengue jadi perlindungan tambahan
IDAI menilai pencegahan DBD perlu dilakukan secara menyeluruh. Selain menjalankan pengendalian lingkungan melalui gerakan 3M Plus, vaksin dengue juga dinilai penting sebagai bentuk perlindungan tambahan.
“Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan yang tersedia, termasuk imunisasi. Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun,” jelasnya.
Langkah pencegahan secara konsisten juga dinilai semakin penting seiring perubahan pola cuaca yang memengaruhi penyebaran nyamuk pembawa virus dengue.
CEO & Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, mengatakan pihaknya berupaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan edukasi terkait DBD, termasuk vaksinasi.
“Kita mempermudah akses layanan tepercaya, termasuk solusi terintegrasi DBD mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi,” ungkap Jonathan.
Belum ada obat spesifik dengue
Dengue diketahui dapat berkembang menjadi kondisi serius yang mengancam jiwa. Hingga saat ini, belum tersedia obat khusus untuk menyembuhkan penyakit tersebut sehingga penanganan medis lebih difokuskan pada pengelolaan gejala dan pencegahan komplikasi.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menegaskan pihaknya mendukung target pemerintah dalam menekan angka kematian akibat dengue di Indonesia.
“Sebagai mitra dari Kementerian Kesehatan RI, kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya menuju Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030,” tambah Andreas Gutknecht.
