Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Marak Kasus Kekerasan di Daycare, Kenali Bahasa Tubuh Anak yang Bisa Jadi Tanda Bahaya

Marak Kasus Kekerasan di Daycare, Kenali Bahasa Tubuh Anak yang Bisa Jadi Tanda Bahaya
Marak Kasus Kekerasan di Daycare, Kenali Bahasa Tubuh Anak yang Bisa Jadi Tanda Bahaya

PEWARTA.CO.ID — Maraknya kasus kekerasan dan penelantaran anak di sejumlah daycare belakangan ini memicu kekhawatiran besar di kalangan orangtua. Peristiwa yang terjadi di beberapa tempat penitipan anak tersebut membuat publik semakin waspada terhadap kondisi anak saat berada di luar pengawasan keluarga.

Anak-anak usia balita yang belum mampu berbicara dengan jelas dinilai menjadi kelompok paling rentan. Mereka sering kali tidak bisa menceritakan pengalaman yang dialami selama berada di daycare. Karena itu, perubahan perilaku dan bahasa tubuh menjadi sinyal penting yang harus diperhatikan orangtua.

Dalam beberapa kasus yang ramai diperbincangkan publik, korban diduga mengalami perlakuan tidak manusiawi saat berada di tempat penitipan anak. Situasi ini membuat banyak orangtua mulai mempertanyakan keamanan dan kualitas pengawasan di daycare.

Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan, S.Psi, Psi, menjelaskan bahwa anak sebenarnya memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan ketidaknyamanan meski belum mampu berbicara secara verbal.

Ia menuturkan bahwa tanda-tanda yang muncul bisa terlihat dari perubahan sikap hingga ekspresi anak sehari-hari.

Perubahan perilaku anak bisa jadi sinyal

Menurut Sani, orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan kecil pada kebiasaan anak. Misalnya, anak tiba-tiba menjadi lebih mudah menangis, tampak ketakutan, tidak lagi ceria, atau menolak saat akan dititipkan ke daycare.

“Jadi memang komunikasi yang diperlukan ya sehingga kita bisa tahu apa yang sedang terjadi. Tapi ketika anak belum bisa ngomong nih, gimana? Nah makanya biasanya reaksinya ada perbedaan, biasanya jadi lebih mudah nangis, tiba-tiba enggak mau ke tempat itu, atau bisa jadi tidak lebih ceria,” ujar Sani dalam wawancara di program Morning Zone.

Ia menambahkan bahwa bahasa tubuh anak merupakan bentuk pesan yang perlu ditangkap dengan serius oleh orangtua.

“Itu bahasa-bahasa tubuh seperti itu salah satu massage yang orangtua bisa tangkap dari yang diekspresikan pada anak,” lanjutnya.

Orangtua diminta lebih tajam mengamati

Sani menilai observasi dari orangtua menjadi sangat penting, terutama bagi anak-anak yang masih belum lancar berbicara. Dalam kondisi tersebut, ekspresi wajah hingga gerak tubuh anak dapat menjadi petunjuk utama jika ada sesuatu yang tidak beres.

Menurutnya, orangtua perlu memahami pola perilaku normal anak agar lebih mudah mendeteksi perubahan yang muncul secara tiba-tiba.

“Makanya saya sering kali sampaikan bahwa ketika anak belum bisa bicara, orangtua harus tajam dalam obeservasi. Ini di sini agak sulit kalau mau menggali sementara anaknya baru bisa owek-owek misalnya. Jadi kita yang memang harus observes secara tajam ekspresi atau body gesture apa yang muncul pada anak,” tutupnya.

Meningkatnya kasus kekerasan di daycare menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap tumbuh kembang dan kondisi emosional anak tidak boleh diabaikan. Kepekaan orangtua dalam membaca bahasa tubuh anak bisa menjadi langkah awal untuk mencegah dampak yang lebih serius.

Advertisement
Advertisement
Advertisement