Prabowo Kumpulkan Eks Pejabat Ekonomi Era SBY, Bahas Strategi Hadapi Ancaman Krisis Global
![]() |
| Prabowo Kumpulkan Eks Pejabat Ekonomi Era SBY, Bahas Strategi Hadapi Ancaman Krisis Global |
PEWARTA.CO.ID — Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh ekonomi nasional yang pernah mengisi posisi penting pada masa pemerintahan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.
Agenda tersebut membahas pengalaman menghadapi krisis ekonomi global sekaligus langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia saat ini.
Beberapa nama yang hadir dalam pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta itu di antaranya Burhanuddin Abdullah, Paskah Suzetta, serta Lukita Dinarsyah Tuwo. Mereka diketahui pernah menjabat sebagai menteri maupun Gubernur Bank Indonesia pada era pemerintahan SBY.
Pertemuan tersebut menjadi perhatian karena membahas kondisi ekonomi global yang dinilai penuh tantangan, termasuk pengalaman Indonesia saat menghadapi tekanan ekonomi besar pada 2008.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, diskusi bersama Presiden Prabowo banyak menyinggung pengalaman masa lalu dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia.
“Tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau Gubernur Bank Indonesia. Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan pers usai pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Bahas pengalaman krisis dan lonjakan harga minyak
Airlangga menjelaskan, para eks pejabat ekonomi era SBY tersebut turut memberikan sejumlah catatan penting terkait tekanan ekonomi global yang pernah dihadapi Indonesia pada masa lalu. Mulai dari lonjakan harga minyak dunia, tekanan inflasi, hingga gejolak nilai tukar rupiah.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah untuk menghadapi kemungkinan tantangan ekonomi di masa mendatang.
“Di tahun 2005 ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar (AS per barel),” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Airlangga, sempat memicu tekanan inflasi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional.
Fundamental ekonomi Indonesia dinilai lebih kuat
Dalam pertemuan itu, pemerintah juga menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang relatif lebih baik dibanding beberapa periode krisis sebelumnya.
Airlangga menyebut fundamental ekonomi nasional dinilai cukup kuat, termasuk dari sisi stabilitas nilai tukar rupiah yang masih terkendali.
“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Dan depresiasi Rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” ungkapnya.
Pemerintah pun mengambil berbagai pembelajaran dari pengalaman masa lalu agar langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat apabila tekanan ekonomi global kembali meningkat.
Prabowo minta pengawasan sektor keuangan diperkuat
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga meminta jajaran terkait, termasuk Menteri Keuangan, untuk terus memantau berbagai regulasi yang berkaitan dengan penguatan sektor finansial nasional.
Fokus utama pemerintah, kata Airlangga, yakni menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memastikan prinsip kehati-hatian di sektor perbankan tetap berjalan optimal.
“Bapak Presiden meminta kami, Menteri Keuangan, untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita,” ujar Airlangga.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan penguatan permodalan bank-bank nasional mengingat jumlah institusi perbankan di Indonesia cukup besar.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketahanan sektor keuangan nasional agar tetap mampu menghadapi dinamika ekonomi global yang terus berubah.
Pertemuan Presiden Prabowo bersama para tokoh ekonomi era SBY ini sekaligus menunjukkan upaya pemerintah dalam menggabungkan pengalaman masa lalu dengan strategi antisipatif guna menjaga ekonomi Indonesia tetap stabil di tengah ketidakpastian global.
