Purbaya Tegaskan Rupiah Melemah Jauh Berbeda dengan Krisis 1998, Investor Diminta Tetap Tenang
![]() |
| Purbaya Tegaskan Rupiah Melemah Jauh Berbeda dengan Krisis 1998, Investor Diminta Tetap Tenang |
PEWARTA.CO.ID — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa disamakan dengan situasi krisis moneter 1998.
Meski nilai tukar rupiah tengah melemah hingga berada di kisaran Rp17.600-Rp17.700 per dolar Amerika Serikat, pemerintah menilai fondasi ekonomi nasional masih dalam kondisi kuat.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya untuk merespons kekhawatiran publik yang mulai mengaitkan pelemahan rupiah dengan potensi terulangnya krisis ekonomi seperti hampir tiga dekade lalu.
Menurut dia, kondisi ekonomi Indonesia saat ini memiliki perbedaan mendasar dibanding masa krisis 1998, baik dari sisi kebijakan makroekonomi maupun stabilitas domestik.
"Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan 'instability social-politic' terjadi setelah setahun kita resesi," ujar Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Kondisi ekonomi disebut masih kuat
Purbaya menjelaskan bahwa krisis 1998 diawali resesi panjang yang mulai menghantam Indonesia sejak pertengahan 1997. Tekanan ekonomi saat itu kemudian berkembang menjadi ketidakstabilan sosial dan politik yang semakin memperburuk keadaan.
Sementara itu, situasi saat ini dinilai jauh berbeda. Pemerintah melihat aktivitas ekonomi domestik masih bergerak positif dan mampu mencatatkan pertumbuhan yang solid di tengah tekanan global.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperbaiki indikator makro yang sempat terdampak volatilitas pasar internasional.
IHSG turun disebut hanya sentimen sementara
Selain menyoroti pelemahan rupiah, Purbaya juga menanggapi koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menilai penurunan pasar saham tersebut lebih dipengaruhi faktor teknikal dan sentimen jangka pendek, bukan karena fundamental ekonomi Indonesia melemah.
Pemerintah, kata dia, tetap berfokus menjaga target pertumbuhan ekonomi riil agar tidak terganggu oleh gejolak pasar modal.
Purbaya bahkan meminta investor domestik agar tidak panik menghadapi kondisi tersebut. Ia justru melihat koreksi pasar saat ini sebagai momentum bagi investor untuk masuk ke pasar saham.
"Jadi teman-teman nggak usah khawatir. Investor pasar saham, kalau saya bilang, jangan takut serok bawah sekarang. Kalau saya lihat tekniknya, sehari dua hari udah balik. Jadi jangan lupa beli saham," kata dia.
Pemerintah intervensi pasar obligasi
Sebagai langkah menjaga stabilitas pasar keuangan, pemerintah mulai menggelontorkan dana intervensi ke pasar obligasi dalam jumlah besar.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga harga Surat Berharga Negara (SBN) tetap stabil dan mencegah investor asing melakukan aksi jual besar-besaran akibat kekhawatiran capital loss.
Pemerintah meyakini stabilitas pasar obligasi akan ikut membantu menjaga pergerakan rupiah agar tidak mengalami tekanan lebih dalam di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
