Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Advertisement
| 📡 LIVE

ACARA: Pengajian Akbar bersama KH. Lukman Syafi'i dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 2026 / 1 Muharram 1448 H. Disiarkan langsung dari Kediri, Jawa Timur. Dimeriahkan bintang tamu grup lawak Cak Percil Cs.

Risiko Penularan Hantavirus di Ruang Terbuka Dinilai Rendah, Ahli Soroti Kasus Kapal MV Hondius

Risiko penularan Hantavirus di ruang terbuka disebut rendah. Ahli epidemiologi UI menjelaskan perbedaan kasus wabah di kapal MV Hondius. Baca di sini!

Risiko Penularan Hantavirus di Ruang Terbuka Dinilai Rendah, Ahli Soroti Kasus Kapal MV Hondius
Risiko Penularan Hantavirus di Ruang Terbuka Dinilai Rendah, Ahli Soroti Kasus Kapal MV Hondius

PEWARTA.CO.ID — Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, menilai risiko penyebaran Hantavirus di lingkungan terbuka relatif rendah dibandingkan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.

Menurut Pandu, kondisi area terbuka membuat potensi penularan virus dari tikus ke manusia tidak terlalu tinggi. Situasi ini berbeda dengan lingkungan tertutup seperti kapal pesiar yang memungkinkan penyebaran terjadi lebih cepat dan luas.

Ia menjelaskan, sebagian besar orang yang terpapar Hantavirus umumnya hanya mengalami gejala ringan menyerupai flu, terutama jika daya tahan tubuh sedang menurun. Meski belum tersedia antivirus khusus untuk Hantavirus, gejalanya tetap dapat ditangani melalui perawatan umum dan istirahat yang cukup.

“Kalau orang itu enggak cukup bagus imunitasnya, kemungkinan dia akan mengalami gejala seperti flu, gitu. Tapi pada umumnya sih enggak berat, jadi bisa sembuh sendiri. Nah kalau virusnya nggak, nggak bisa diobati karena antivirus itu enggak ada. Jadi istirahat, perbaikan umum, kalau panas diobati panasnya,” kata Pandu saat dihubungi Okezone, Jumat (8/5/2026).

Tidak terlalu berisiko di area terbuka

Pandu menegaskan bahwa kehidupan masyarakat sehari-hari yang berlangsung di area terbuka membuat risiko penularan Hantavirus tidak sebesar di ruang tertutup.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius di Tanjung Verde. Menurutnya, kapal merupakan ruang terbatas yang dihuni banyak orang dalam waktu lama sehingga meningkatkan potensi wabah.

“Nah, kejadian di kapal itu kan area yang sangat tertutup. Kalau di kehidupan kita kan terbuka, lebih tidak berisiko,” ujar Pandu.

“Kalau di kapal seperti itu selama berhari-hari, bisa banyak yang kena dalam satu kapal itu. Sehingga terjadi kayak outbreak (wabah atau kejadian luar biasa),” jelas dia.

Penularan berasal dari tikus

Dalam penjelasannya, Pandu menyebut Hantavirus umumnya ditularkan melalui tikus atau rodent. Hewan tersebut dapat meninggalkan kotoran maupun urine yang kemudian mencemari lingkungan sekitar manusia.

Kontaminasi itu bisa menempel pada barang, makanan, maupun debu yang terhirup manusia sehingga berpotensi menyebabkan infeksi.

“Pada umumnya itu masih ditularkan dari Rodent atau tikus,” jelas Pandu.

“Itu media kencingnya atau tainya mengontaminasi barang-barang di tempat kita hidup atau makanan kita, kita megang, kita hirup debunya,” pungkas dia.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
Redaksi Pewarta.co.id
Redaksi Pewarta.co.id
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • Risiko Penularan Hantavirus di Ruang Terbuka Dinilai Rendah, Ahli Soroti Kasus Kapal MV Hondius
  • Risiko Penularan Hantavirus di Ruang Terbuka Dinilai Rendah, Ahli Soroti Kasus Kapal MV Hondius
  • Risiko Penularan Hantavirus di Ruang Terbuka Dinilai Rendah, Ahli Soroti Kasus Kapal MV Hondius
  • Risiko Penularan Hantavirus di Ruang Terbuka Dinilai Rendah, Ahli Soroti Kasus Kapal MV Hondius
  • Risiko Penularan Hantavirus di Ruang Terbuka Dinilai Rendah, Ahli Soroti Kasus Kapal MV Hondius
  • Risiko Penularan Hantavirus di Ruang Terbuka Dinilai Rendah, Ahli Soroti Kasus Kapal MV Hondius
Advertisement
Advertisement
Advertisement