Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Rupiah Tembus Rp17.500: Ketegangan Selat Hormuz dan Badai PHK Tekan Ekonomi RI

Rupiah Tembus Rp17.500: Ketegangan Selat Hormuz dan Badai PHK Tekan Ekonomi RI
Rupiah Tembus Rp17.500: Ketegangan Selat Hormuz dan Badai PHK Tekan Ekonomi RI

PEWARTA.CO.ID — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan berat setelah menembus level psikologis baru di Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pasar bahwa pelemahan masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.

Rupiah tembus level Rp17.500, tekanan belum mereda

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah kali ini terjadi akibat kombinasi sentimen global dan tantangan ekonomi domestik yang masih kuat menekan pasar.

Ia menyebut, pergerakan rupiah masih berada dalam tren pelemahan yang cukup tajam dan diperkirakan belum akan berhenti dalam waktu dekat.

“Hari ini rupiah terus mengalami pelemahan. Ya, sudah menyentuh level Rp17.500 yang kemungkinan besar akan kembali menuju Rp17.550-an. Angka Rp17.550 kemungkinan besar akan tercapai dalam minggu ini,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Ketegangan Selat Hormuz dorong penguatan dolar AS

Dari sisi global, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi faktor utama yang menguatkan dolar AS. Situasi ini diperburuk oleh penolakan Amerika Serikat terhadap usulan perdamaian Iran serta adanya eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz.

Selain itu, laporan mengenai serangan terhadap fasilitas kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, turut menambah kekhawatiran pelaku pasar. Kondisi ini melibatkan dinamika beberapa negara eks anggota OPEC yang berdampak pada stabilitas energi dunia.

Akibatnya, harga minyak mentah jenis Brent mengalami kenaikan, yang kemudian ikut mendorong biaya transportasi global semakin mahal.

Ekonomi domestik dan ancaman PHK ikut menekan rupiah

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat cukup solid di angka 5,61 persen, Ibrahim menilai capaian tersebut belum cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, bukan dari investasi produktif yang berkelanjutan.

Di sisi lain, tekanan juga datang dari sektor ketenagakerjaan. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) disebut mulai meluas di sejumlah sektor padat karya.

“Sejak Januari sampai April 2026, sudah 40 ribu buruh di sektor padat karya seperti manufaktur, tekstil, garmen, dan elektronik terkena PHK. Ada kemungkinan beberapa bulan ke depan PHK akan kembali meningkat cukup signifikan,” paparnya.

Struktur tenaga kerja Indonesia yang masih didominasi sekitar 87,74 juta pekerja di sektor informal juga disebut membuat ketahanan ekonomi semakin rentan terhadap guncangan.

Menanti keputusan MSCI dan sikap Bank Indonesia

Selain faktor global dan domestik, pasar keuangan juga tengah menunggu pengumuman dari MSCI terkait potensi perubahan peringkat dan indeks saham Indonesia dalam beberapa hari ke depan.

Keputusan tersebut dinilai dapat memengaruhi arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan nasional.

Hingga saat ini, Bank Indonesia (BI) belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pelemahan rupiah yang menembus Rp17.500.

Pasar juga masih menunggu kepastian apakah bank sentral akan melakukan intervensi atau mengambil langkah kebijakan moneter untuk meredam volatilitas nilai tukar yang terus meningkat sejak awal pekan.

Advertisement
Advertisement
Advertisement