Tesla Resmi Luncurkan FSD di China
![]() |
| Tesla |
PEWARTA.CO.ID — Tesla akhirnya resmi menghadirkan teknologi Full Self-Driving (FSD) di China setelah melalui proses panjang yang dipenuhi hambatan regulasi dan negosiasi selama bertahun-tahun.
Peluncuran ini menjadi langkah penting bagi perusahaan milik Elon Musk di tengah ketatnya persaingan kendaraan listrik dan teknologi otonom di negeri tersebut.
China sendiri dikenal sebagai pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. Namun, dominasi Tesla di negara itu mulai tergerus karena produsen lokal bergerak sangat cepat dalam mengembangkan teknologi mengemudi otomatis.
Pengumuman peluncuran FSD Supervised dilakukan Tesla pada Kamis lalu. Sistem tersebut kini tersedia di sejumlah wilayah global, termasuk China, Amerika Utara, Asia-Pasifik, hingga Eropa.
Peluncuran itu terjadi hanya sepekan setelah Elon Musk melakukan kunjungan ke Beijing dalam rangkaian agenda kenegaraan Donald Trump di China. Meski tidak dijelaskan secara rinci kaitannya dengan izin regulasi, kunjungan tersebut dinilai menjadi momen penting bagi terbukanya akses FSD di pasar China.
Tesla mulai kehilangan dominasi di pasar China
Perjalanan Tesla untuk menghadirkan FSD di China tidak berjalan mudah. Ketika perusahaan asal Amerika Serikat itu masih berupaya menyelesaikan urusan regulasi, para produsen otomotif lokal sudah lebih dulu memperkenalkan sistem swakemudi mereka sendiri.
Kondisi itu membuat Tesla kini harus mengejar ketertinggalan di pasar yang sebelumnya sempat mereka kuasai.
Pangsa pasar Tesla di China tercatat turun drastis. Pada 2020, perusahaan tersebut sempat menguasai sekitar 16 persen pasar kendaraan listrik China. Namun pada 2025, angkanya merosot menjadi hanya 6 persen.
Penjualan Tesla juga mengalami tekanan. Sepanjang April 2026, Tesla hanya mampu menjual 25.956 unit kendaraan di China. Jumlah itu turun 9,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan anjlok 53,7 persen dibanding bulan sebelumnya.
Bahkan, Tesla kini sudah keluar dari daftar 10 besar produsen kendaraan listrik terbesar di pasar domestik China.
FSD jadi senjata baru Tesla
Tesla kini berharap FSD dapat menjadi alat untuk merebut kembali perhatian konsumen sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan.
Di China, fitur FSD dijual melalui sistem pembelian satu kali senilai 64.000 yuan atau sekitar 9.400 dolar AS. Berbeda dengan pasar lain, Tesla belum menyediakan opsi langganan bulanan bagi pengguna di China.
Secara global, tingkat adopsi FSD masih tergolong rendah. Pada kuartal ketiga 2025, hanya sekitar 12 persen pelanggan Tesla yang menggunakan layanan tersebut.
Meski begitu, Tesla optimistis kehadiran FSD di China akan membantu meningkatkan performa sistem mereka karena perusahaan kini dapat memanfaatkan data berkendara lokal dalam jumlah sangat besar untuk pengembangan teknologi AI dan kendaraan otonom.
Produsen lokal China makin agresif
Tantangan terbesar Tesla datang dari produsen kendaraan listrik asal China seperti BYD, Li Auto, dan Xpeng.
Berbeda dengan Tesla yang menjual fitur bantuan pengemudi sebagai layanan tambahan berbayar, banyak produsen lokal justru menjadikan teknologi tersebut sebagai fitur standar dalam kendaraan mereka.
Xpeng dan Li Auto juga dinilai lebih unggul dalam menyesuaikan teknologi dengan kondisi jalan di China. Lingkungan lalu lintas di negara tersebut memang terkenal kompleks, mulai dari persimpangan kota yang padat, jalan desa tanpa marka jelas, hingga lalu lintas kendaraan pengiriman yang tidak teratur.
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi sistem Tesla yang sebelumnya lebih banyak dilatih menggunakan data jalanan Amerika Serikat.
Xpeng mulai produksi robotaxi Level 4
Xpeng menjadi salah satu perusahaan yang paling agresif dalam pengembangan kendaraan otonom. Produsen asal Guangzhou itu bahkan sudah memulai produksi massal robotaxi otonom berbasis chip AI Turing buatan sendiri.
Teknologi yang digunakan Xpeng diklaim sudah mencapai kemampuan mengemudi otomatis Level 4. Tingkatan itu berada di atas sistem FSD Tesla yang masih mengharuskan pengemudi tetap siaga selama kendaraan berjalan.
Perusahaan tersebut menargetkan uji coba layanan robotaxi dimulai pada paruh kedua 2026. Operasi awal akan dilakukan bersama Amap untuk menguji kesiapan teknologi, penerimaan pengguna, hingga potensi model bisnisnya.
Kemitraan dengan Amap juga memberi keuntungan besar bagi Xpeng karena perusahaan itu mendapatkan akses ke data navigasi yang sangat luas di China.
Performa FSD Tesla mulai dibandingkan
Persaingan teknologi antara Tesla dan Xpeng juga mulai terlihat lewat berbagai pengujian performa.
Dalam salah satu perbandingan yang menggunakan rute sama, sistem AI milik Xpeng disebut hanya membutuhkan satu intervensi manusia selama perjalanan. Sementara FSD Tesla memerlukan tujuh kali pelepasan kendali dalam durasi 54 menit.
Selain itu, kendaraan Xpeng juga diklaim mampu menyelesaikan rute lima menit lebih cepat dibanding Tesla.
Meski hasil pengujian tersebut berasal dari pihak yang memiliki kepentingan langsung, data itu memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi kendaraan otonom di China berlangsung sangat cepat.
Tesla yang dulu dianggap sebagai pemimpin dominan dalam teknologi kendaraan listrik dan swakemudi kini menghadapi tekanan besar dari perusahaan lokal.
Peluang Tesla bangkit masih terbuka
Walau persaingan makin ketat, Tesla masih memiliki sejumlah kekuatan penting. Brand perusahaan tetap sangat dikenal secara global, termasuk rekam jejak mereka dalam pengembangan perangkat lunak kendaraan.
Kini, akses terhadap data berkendara nyata di China juga menjadi modal penting bagi Tesla untuk meningkatkan kemampuan sistem FSD mereka.
Sejumlah analis menilai kehadiran FSD di China justru akan mempercepat inovasi industri kendaraan otonom secara keseluruhan. Persaingan antara Tesla dan produsen lokal diperkirakan bakal memberi keuntungan lebih besar bagi konsumen lewat teknologi yang semakin canggih dan kompetitif.
Namun, pertanyaan terbesar tetap sama: apakah peluncuran FSD di China cukup untuk membantu Tesla membalikkan penurunan pangsa pasarnya? Elon Musk kini menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa Tesla masih mampu bersaing di tengah laju cepat industri otomotif China.
