Wabah Ebola Kembali Mengganas di Kongo, 65 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
![]() |
| Wabah Ebola Kembali Mengganas di Kongo, 65 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia |
PEWARTA.CO.ID — Wabah Ebola kembali melanda Republik Demokratik Kongo dan memicu kekhawatiran serius di kawasan Afrika Tengah. Otoritas kesehatan Afrika melaporkan sedikitnya 65 orang meninggal dunia akibat penyebaran virus mematikan tersebut.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika atau Africa CDC menyebut situasi saat ini cukup mengkhawatirkan karena potensi penularan masih sangat tinggi. Mobilitas warga di wilayah terdampak dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat wabah sulit dikendalikan.
Daerah yang terdampak diketahui berada di sekitar kawasan pertambangan yang memiliki aktivitas keluar masuk penduduk cukup padat. Kondisi itu dinilai memperbesar risiko penyebaran penyakit ke wilayah lain.
Africa CDC khawatir penyebaran makin luas
Africa CDC mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium nasional Republik Demokratik Kongo menemukan virus Ebola pada 13 dari 20 sampel yang diuji.
Informasi tersebut disampaikan pada Jumat (15/5/2026) sebagaimana dilaporkan The Guardian.
Ebola sendiri merupakan penyakit berbahaya dengan tingkat kematian tinggi. Virus ini dapat menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, seperti darah dan muntahan, termasuk kontak dengan jenazah saat proses pemakaman.
Republik Demokratik Kongo tercatat telah mengalami 16 kali wabah Ebola sejak virus tersebut pertama kali ditemukan pada 1976.
Selama ini, wabah yang muncul umumnya berasal dari strain Ebola Zaire yang vaksinnya sudah tersedia. Namun, hasil pengujian awal kali ini menunjukkan jenis virus yang ditemukan berbeda dari wabah sebelumnya.
Africa CDC menyatakan hasil pengurutan genetik lebih lengkap akan diumumkan dalam waktu 24 jam.
Pertemuan darurat digelar
Menyikapi kondisi tersebut, Africa CDC dijadwalkan menggelar pertemuan darurat bersama pemerintah Republik Demokratik Kongo, Uganda, Sudan Selatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga perusahaan farmasi.
“Africa CDC menyatakan solidaritasnya dengan pemerintah dan rakyat Republik Demokratik Kongo dalam menanggapi wabah ini,” kata Jean Kaseya, direktur jenderal Africa CDC.
“Mengingat tingginya pergerakan penduduk antara daerah yang terdampak dan negara-negara tetangga, koordinasi regional yang cepat sangat penting,” imbuhnya.
Kasus Ebola paling banyak ditemukan di zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara. Selain itu, laporan dugaan kasus juga muncul di wilayah Bunia yang berada di sekitar area terdampak.
Peneliti soroti sejumlah faktor penyebab
Peneliti senior kesehatan global dari Universitas Southampton Inggris, Michael Head, menilai Republik Demokratik Kongo memang kerap menghadapi wabah Ebola berulang.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang diduga memicu penyebaran virus tersebut di wilayah itu.
“Republik Demokratik Kongo sering mengalami kematian akibat Ebola. Kemungkinan ada serangkaian faktor yang menyebabkan wabah yang terjadi secara berkala ini. Kontak dekat manusia dengan reservoir hewan, kemungkinan besar kelelawar tetapi mungkin juga primata, adalah salah satu faktornya. Kekhawatiran lainnya termasuk pergerakan orang antara lingkungan pedesaan dan perkotaan, iklim tropis, dan tutupan hutan hujan yang tinggi,” tuturnya.
