Evaluasi Haji 2026, Kemenhaj Perketat Pemeriksaan Kesehatan Calon Jemaah
![]() |
| Evaluasi Haji 2026, Kemenhaj Perketat Pemeriksaan Kesehatan Calon Jemaah |
PEWARTA.CO.ID — Pemerintah melakukan evaluasi sekaligus perubahan dalam proses persiapan keberangkatan ibadah haji. Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah penerapan pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji secara lebih ketat, khususnya bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menjadikan penyelenggaraan haji tahun berjalan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas layanan. Pengetatan pemeriksaan kesehatan dilakukan agar jemaah yang berangkat benar-benar memenuhi syarat kemampuan fisik atau istitaah kesehatan.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan hal tersebut setelah menghadiri rapat koordinasi di Gedung Kementerian Haji, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
"Tahun depan ini juga jadi evaluasi kami, kami harus lebih ketat terkait dengan istitaah kesehatan," ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, usai rapat koordinasi di Gedung Kementerian Haji, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Angka jemaah wafat menurun
Dahnil menjelaskan, jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia pada pelaksanaan haji tahun ini tercatat sekitar 350 orang.
Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Pada tahun lalu, angka jemaah Indonesia yang wafat selama penyelenggaraan haji mencapai 467 orang.
Meski terjadi penurunan, pemerintah tetap melakukan evaluasi untuk mencegah risiko kesehatan yang dapat dialami jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Salah satu evaluasi utama adalah memastikan kondisi kesehatan calon jemaah sebelum keberangkatan.
Jemaah dengan komorbid akan diperiksa lebih ketat
Kemenhaj nantinya akan memberikan perhatian khusus kepada calon jemaah yang mempunyai penyakit penyerta, risiko gangguan daya ingat seperti demensia, maupun kondisi kesehatan serius lainnya.
Calon jemaah dengan kondisi tertentu akan menjalani pemeriksaan yang lebih mendalam. Bahkan, pemerintah dapat mengambil keputusan untuk tidak memberangkatkan jemaah yang dinilai belum memenuhi persyaratan kesehatan.
"Jadi mau tidak mau, kami harus lebih tegas terkait dengan jemaah-jemaah yang memiliki komorbid, kemudian misalnya potensi dimensia, kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya untuk tidak bisa berangkat," katanya.
Langkah tersebut dilakukan karena pelaksanaan ibadah haji membutuhkan daya tahan tubuh yang kuat. Berbagai kegiatan selama di Tanah Suci mengharuskan jemaah memiliki kesiapan fisik agar dapat menjalankan ibadah dengan aman.
Ada program manasik kesehatan untuk calon jemaah
Selain memperketat pemeriksaan, Kementerian Haji juga menyiapkan program manasik kesehatan bagi calon jemaah yang dijadwalkan berangkat pada 2027.
Program ini dirancang sebagai bentuk persiapan fisik jemaah sejak jauh hari. Pemerintah ingin memastikan calon jemaah memiliki waktu sekitar satu tahun untuk menjaga dan meningkatkan kondisi kesehatan sebelum keberangkatan.
"Manasik kesehatan itu artinya kami ingin memastikan jemaah-jemaah yang sudah ditetapkan akan berangkat di 2027 ini itu mereka sudah persiapan selama 1 tahun yang kami sebut manasik kesehatan," tutur Dahnil.
Melalui program tersebut, jemaah akan diarahkan untuk membangun kebiasaan hidup sehat, termasuk aktivitas fisik rutin serta pengelolaan penyakit yang sudah dimiliki.
Persiapan fisik jadi bagian penting ibadah haji
Dahnil menyebut sebagian besar rangkaian kegiatan haji membutuhkan kemampuan fisik karena jemaah harus banyak melakukan aktivitas berjalan dan bergerak selama berada di Tanah Suci.
"Misalnya kebiasaan olahraga, jalan kaki, kemudian kalau sanggup lari-lari karena 95 persen kegiatan di tanah suci itu adalah kegiatan fisik," jelasnya.
Bagi calon jemaah yang memiliki penyakit penyerta seperti tekanan darah tinggi atau diabetes, kondisi kesehatan akan terus dipantau secara berkala.
" Kemudian, kalau mereka punya komorbid, kemudian nanti secara intens dimaintain. Misalnya darah tinggi, diabet, dan sebagainya itu secara intens di maintain oleh tim dokter di daerah masing-masing," kata Dahnil.
Dengan adanya evaluasi haji 2026 dan penguatan pemeriksaan kesehatan, pemerintah berharap calon jemaah dapat menjalankan ibadah dengan kondisi yang lebih siap, aman, dan sesuai kemampuan fisiknya.
| 📡 LIVE