Gen Z dan Milenial Jadi Penggerak Utama Pencarian Rumah, Industri KPR Mulai Bertransformasi
![]() |
| Gen Z dan Milenial Jadi Penggerak Utama Pencarian Rumah, Industri KPR Mulai Bertransformasi |
PEWARTA.CO.ID — Perubahan besar tengah terjadi dalam industri properti Indonesia. Generasi muda kini menjadi kelompok yang paling aktif mencari hunian sekaligus memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk mewujudkan impian memiliki rumah.
Jika sebelumnya calon pembeli rumah lebih sering memulai pencarian dengan mendatangi kantor pemasaran atau lokasi proyek, kini kebiasaan tersebut mulai bergeser. Perkembangan teknologi membuat banyak pencari hunian mengawali prosesnya melalui perangkat digital, terutama smartphone.
Perubahan pola konsumen ini membuat pelaku industri properti harus menyesuaikan strategi. Pengalaman membeli rumah kini tidak hanya soal penyediaan pembiayaan, tetapi juga bagaimana memberikan kemudahan sejak tahap pencarian hingga proses kepemilikan.
Gen Z dan milenial dominasi pencarian hunian
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong transformasi sektor properti dan pembiayaan rumah.
Menurutnya, kelompok usia muda saat ini menjadi kekuatan terbesar dalam permintaan hunian di Indonesia. Berdasarkan data yang dimiliki, sebagian besar pencarian rumah berasal dari kelompok Gen Z dan Milenial.
“Data menunjukkan bahwa 63,5% pencarian hunian berasal dari kelompok Gen Z dan Milenial usia 18–44 tahun. Mereka kini menjadi motor utama permintaan properti di Indonesia, dengan total populasi mencapai 140,3 juta jiwa atau hampir 49,3% dari total penduduk Indonesia,” ujar Nixon, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Besarnya kontribusi generasi muda tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan tempat tinggal tidak lagi didominasi oleh kelompok usia yang lebih matang. Gen Z dan Milenial mulai menjadi pasar utama yang menentukan arah perkembangan industri perumahan.
Fenomena ini juga terlihat dari komposisi nasabah KPR BTN. Sebagian besar penerima pembiayaan rumah dari bank tersebut berasal dari dua kelompok generasi tersebut.
Debitur KPR didominasi generasi muda
Nixon menjelaskan, sekitar 95,3 persen debitur KPR BTN saat ini berasal dari kalangan Gen Z dan Milenial. Angka tersebut memperlihatkan bahwa minat generasi muda terhadap kepemilikan rumah cukup tinggi.
Kondisi itu sekaligus menjadi tanda bahwa industri pembiayaan rumah perlu terus mengikuti perkembangan teknologi dan kebiasaan konsumen baru.
“Kami ingin memastikan bahwa proses memiliki rumah menjadi semakin mudah, cepat, dan nyaman. Faktanya, saat ini debitur KPR BTN telah didominasi oleh Gen Z dan Milenial dengan porsi mencapai 95,3%. Ini menjadi bukti kuat bahwa masa depan industri pembiayaan perumahan adalah masa depan yang digital,” kata Nixon.
Menurut BTN, generasi muda saat ini membutuhkan lebih dari sekadar akses pembiayaan yang terjangkau. Mereka juga menginginkan proses pembelian rumah yang praktis, sederhana, dan dapat dilakukan melalui ekosistem digital.
Karena itu, BTN terus mengembangkan pendekatan Beyond Mortgage. Strategi tersebut dirancang agar layanan perumahan tidak berhenti pada pemberian kredit, tetapi juga mendampingi masyarakat mulai dari mencari rumah, menghitung kemampuan finansial, mengajukan pembiayaan, hingga mengelola hunian.
Kolaborasi jadi kunci masa depan properti digital
Nixon menilai perkembangan ekosistem perumahan digital membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Menurutnya, transformasi industri properti tidak bisa berjalan hanya dengan peran satu lembaga.
Kolaborasi antara sektor pembiayaan, platform properti, dan berbagai pelaku industri menjadi faktor penting agar akses kepemilikan rumah semakin luas.
“Masa depan industri perumahan tidak dapat dibangun oleh satu institusi saja, melainkan melalui kolaborasi dan integrasi. Kami ingin membangun ekosistem properti yang lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan adanya integrasi layanan, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pengalaman membeli rumah yang lebih mudah dibandingkan sebelumnya.
Perubahan perilaku konsumen juga membuat platform properti memiliki peran semakin besar. Masyarakat kini tidak hanya menggunakan platform digital untuk mencari informasi, tetapi juga sebagai langkah awal menuju transaksi kepemilikan hunian.
Konsumen properti kini lebih siap membeli
CEO 99 Group Indonesia Darius Cheung mengatakan bahwa kebutuhan pengguna platform properti mengalami perubahan. Menurutnya, konsumen saat ini tidak hanya datang untuk melihat daftar rumah yang tersedia.
Mereka sudah memiliki tujuan lebih jauh, yakni mencari jalan agar bisa segera memiliki hunian.
“Konsumen tidak datang hanya untuk melihat listing, mereka datang karena ingin punya rumah. Semakin lengkap ekosistem yang kami bangun bersama mitrasemakin banyak orang yang bisa mewujudkan hunian impiannya,” tuturnya.
Perubahan tren pencarian rumah oleh Gen Z dan Milenial menjadi sinyal bahwa industri properti Indonesia sedang memasuki fase baru. Digitalisasi, kemudahan akses pembiayaan, serta integrasi layanan menjadi faktor penting dalam memenuhi kebutuhan hunian generasi masa kini.
| LIVE