Kemenhaj Siapkan Evaluasi Haji 2026, Pergerakan Armuzna dan Kesehatan Jemaah Jadi Sorotan
![]() |
| Kemenhaj Siapkan Evaluasi Haji 2026, Pergerakan Armuzna dan Kesehatan Jemaah Jadi Sorotan |
PEWARTA.CO.ID — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mulai mengumpulkan berbagai catatan penting sebagai bahan evaluasi pelaksanaan ibadah haji 2026.
Sejumlah aspek menjadi perhatian, terutama terkait pelayanan jemaah saat fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), serta penerapan aturan istitha'ah kesehatan.
Evaluasi tersebut dilakukan setelah Kemenhaj menjalankan penyelenggaraan haji secara langsung untuk pertama kalinya. Pemerintah melihat masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki agar pelaksanaan ibadah haji pada tahun-tahun berikutnya dapat berjalan lebih maksimal.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, catatan evaluasi tersebut menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas layanan kepada jemaah.
"Tentu banyak evaluasi, ini tahun pertama Kementerian Haji dan Umrah melaksanakan penyelenggaraan haji secara langsung, ada beberapa catatan penting terutama nanti terkait pergerakan di Armuzna dan kedua tentang istitha'ah kesehatan," kata Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (12/6/2026).
Pergerakan jemaah di Armuzna jadi perhatian
Dahnil menjelaskan, salah satu fokus evaluasi Kemenhaj berkaitan dengan pola pengaturan petugas ketika jemaah melakukan rangkaian perjalanan di kawasan Armuzna.
Menurutnya, sistem penugasan petugas akan diperbaiki agar kehadiran mereka di lapangan bisa lebih intensif. Langkah tersebut diharapkan dapat membuat jemaah mendapatkan pendampingan dan pelayanan yang lebih cepat ketika menjalani rangkaian ibadah.
Armuzna menjadi salah satu fase paling penting dalam pelaksanaan haji karena jemaah berkumpul dalam jumlah besar dalam waktu yang hampir bersamaan. Oleh sebab itu, pengaturan mobilisasi jemaah menjadi salah satu faktor yang terus menjadi perhatian pemerintah.
Kemenhaj ingin memastikan pelayanan berjalan lebih efektif, terutama ketika menghadapi kondisi padatnya aktivitas jemaah di lokasi-lokasi utama pelaksanaan ibadah haji tersebut.
Syarat kesehatan jemaah akan diperketat
Selain pergerakan jemaah, aspek kesehatan juga masuk dalam daftar evaluasi utama Kemenhaj. Dahnil menyebut penerapan istitha'ah kesehatan menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Hal itu berkaitan dengan angka kematian jemaah haji yang masih cukup tinggi, khususnya dari wilayah Jawa Timur, meskipun jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan catatan yang disampaikan Dahnil, jumlah jemaah haji asal Jawa Timur yang meninggal dunia pada 2025 tercatat sebanyak 104 orang. Sementara pada pelaksanaan haji 2026, jumlah tersebut turun menjadi 65 orang.
Kondisi tersebut membuat Kemenhaj berencana memperketat pemeriksaan kesehatan bagi calon jemaah yang akan berangkat pada musim haji 2027.
"Tahun depan kami lebih selektif, misalnya yang memiliki indikasi demensia dipotong supaya tidak berangkat, yang (penyakit) ginjal, tuberkulosis (TBC), dan sebagainya kami pastikan tidak bisa berangkat," ujarnya.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keselamatan jemaah selama berada di Tanah Suci. Pemerintah ingin memastikan setiap jemaah yang diberangkatkan memiliki kondisi kesehatan yang memungkinkan untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji.
Persiapan biaya haji 2027
Selain mengevaluasi pelaksanaan haji 2026, Kemenhaj juga mulai menyusun rencana biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) untuk tahun 2027.
Pemerintah berupaya agar biaya yang harus ditanggung jemaah tetap berada dalam kondisi yang wajar. Salah satu tantangan yang diperhitungkan adalah perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Dahnil menyampaikan, pihaknya sedang mencari skema pembiayaan yang tetap memperhatikan kepentingan jemaah sekaligus menjaga keberlanjutan pengelolaan keuangan haji.
"Tentu kami berusaha mencari postur pembiayaan yang berkeadilan untuk jemaah dan berkeadilan untuk keuangan haji," tutur dia.
Upaya tersebut dilakukan agar kebijakan biaya haji tetap seimbang dan tidak memberikan beban besar kepada masyarakat yang akan menjalankan ibadah haji.
Wamenhaj beri dukungan kepada petugas haji
Kunjungan Dahnil Anzar Simanjuntak ke Kota Malang tidak hanya berkaitan dengan agenda evaluasi haji. Dalam kesempatan tersebut, ia juga datang untuk memberikan dukungan kepada Muhaimin, salah satu petugas haji yang istrinya baru saja meninggal dunia.
Bersama jajaran Kemenhaj, Dahnil mendatangi rumah duka untuk menyampaikan dukungan moral kepada keluarga almarhumah.
Ia menegaskan bahwa para petugas haji merupakan bagian dari keluarga besar Kemenhaj yang memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kepada jmaah .
Saat ini, Muhaimin masih menjalankan tugasnya sebagai petugas haji di Arab Saudi. Meski tengah menghadapi situasi duka, ia tetap menyelesaikan tanggung jawab pelayanan selama musim haji berlangsung.
"Beliau Cak Imin (sapaan Muhaimin) menunaikan tanggung jawab sampai selesai di tanah haram," kata dia.
Evaluasi haji 2026 yang dilakukan Kemenhaj menjadi langkah persiapan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji ke depan, terutama dalam aspek pelayanan jemaah, pengaturan Armuzna, serta penerapan standar kesehatan bagi calon jemaah.

