Kompor Listrik untuk Rumah Tangga 900 VA ke Bawah Mulai Disiapkan Pemerintah
![]() |
| Ilustrasi. Penggunaan kompor listrik. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Pemerintah kembali mendorong penggunaan energi alternatif di sektor rumah tangga dengan menyiapkan program pengadaan kompor listrik bagi masyarakat.
Salah satu sasaran utama program ini adalah pelanggan listrik dengan daya 900 VA ke bawah yang selama ini banyak menggunakan LPG untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengalokasikan anggaran untuk pengadaan kompor listrik sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gas LPG. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah pemerintah dalam melakukan diversifikasi energi nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa perkembangan teknologi kompor listrik saat ini memungkinkan penggunaannya pada rumah tangga dengan kapasitas listrik terbatas. Dengan adanya teknologi terbaru tersebut, masyarakat yang berada di wilayah pedesaan dan memiliki daya listrik rendah tetap dapat memanfaatkan kompor listrik.
"Sebagai tahap awal, karena ada beberapa model kompor listrik, yang sekarang kami minta itu di sekitar di bawah 900 VA, supaya rakyat yang di daerah-daerah, di desa itu bisa pakai," ujarnya.
Kompor listrik disesuaikan dengan daya listrik masyarakat
Bahlil menjelaskan, pemerintah tidak hanya menyiapkan kompor listrik untuk pelanggan dengan daya besar. Pengembangan perangkat juga diarahkan agar bisa digunakan oleh kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan daya listrik di rumah.
Hal tersebut dilakukan agar program konversi energi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di daerah-daerah dengan infrastruktur listrik yang belum sebesar wilayah perkotaan.
Dengan adanya penyesuaian spesifikasi kompor listrik, masyarakat pengguna listrik 900 VA ke bawah diharapkan tetap memiliki akses terhadap teknologi memasak berbasis listrik tanpa harus melakukan perubahan besar pada kapasitas daya rumah.
Ketergantungan impor LPG menjadi perhatian
Di balik rencana penggunaan kompor listrik, pemerintah melihat adanya tantangan besar dalam pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga. Indonesia saat ini masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan LPG dari luar negeri.
Bahlil menyebut kebutuhan LPG nasional sekitar 80 persen masih berasal dari impor. Kondisi tersebut membuat negara harus mengeluarkan biaya besar untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
Ketergantungan terhadap impor energi juga berdampak pada penggunaan devisa negara. Semakin besar kebutuhan LPG yang tidak dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, maka semakin besar pula tekanan terhadap keuangan negara.
Subsidi LPG capai puluhan triliun rupiah
Selain persoalan impor, pemerintah juga menghadapi beban anggaran akibat subsidi LPG yang terus berjalan setiap tahun. Bahlil menyebut nilai subsidi LPG saat ini telah mencapai lebih dari Rp80 triliun per tahun.
Besarnya anggaran tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mencari alternatif energi lain yang dinilai lebih berkelanjutan. Diversifikasi energi melalui kompor listrik menjadi salah satu opsi untuk mengurangi tekanan terhadap anggaran negara.
Menurut Bahlil, apabila ketergantungan terhadap LPG terus berlangsung tanpa adanya perubahan pola konsumsi energi, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi ketahanan energi nasional.
Pemerintah berharap penggunaan energi alternatif seperti kompor listrik dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam menjaga stabilitas energi sekaligus mengurangi beban pembiayaan negara.
| LIVE