RI Ekspor 28 Ton Lidi Sawit ke China, Limbah Perkebunan Jadi Cuan
![]() |
| RI Ekspor 28 Ton Lidi Sawit ke China, Limbah Perkebunan Jadi Cuan |
PEWARTA.CO.ID — Indonesia kembali mencatat langkah penting di sektor ekspor nonkonvensional. Kali ini, sebanyak 28 ton lidi sawit resmi dilepas untuk dikirim ke China dalam ekspor perdana yang melibatkan petani hingga pelaku UMKM.
Produk yang selama ini dianggap limbah perkebunan tersebut justru kini memiliki nilai ekonomi baru dan mulai dilirik pasar internasional.
Ekspor perdana 28 ton lidi sawit ke China
Ekspor ini difasilitasi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia. Komoditas lidi sawit yang dikirim berasal dari sejumlah daerah seperti Riau, Sumatera Utara, hingga Aceh.
Pengumpulan bahan baku dilakukan oleh petani sawit, UMKM, serta koperasi anggota Aspekpir melalui program pemberdayaan yang dijalankan bersama BPDP. Dalam proses pemasaran, Aspekpir menggandeng PT Arra Setya Abadi sebagai pihak eksportir yang akan membawa produk ini ke pasar luar negeri.
Dorongan pemberdayaan petani dan UMKM
Ketua Umum Aspekpir Setiyono menegaskan bahwa ekspor perdana ini merupakan hasil dari rangkaian program pemberdayaan yang telah berjalan di berbagai daerah, khususnya Riau dan Sumatera Utara.
Ia menyebutkan bahwa potensi lidi sawit selama ini sering terabaikan, padahal memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.
“Ekspor perdana ini membuktikan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan,” kata Setiyono dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Peran BPDP dalam pengembangan produk turunan sawit
Dari sisi kelembagaan, BPDP juga aktif mendorong pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi produk bernilai tambah. Sejak 2024, berbagai kegiatan promosi telah dilakukan untuk memperkenalkan potensi lidi sawit kepada petani dan pelaku usaha.
Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Anwar Sadat, menjelaskan bahwa pelatihan dan workshop telah digelar di berbagai wilayah, mulai dari Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Pasang Kayu di Sulawesi Barat.
“BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi,” ujarnya.
BPDP juga menilai bahwa lidi sawit memiliki peluang besar, baik sebagai bahan ekspor maupun sebagai material untuk produk kerajinan UMKM di daerah.
Permintaan pasar luar negeri terus meningkat
Sementara itu, Direktur Utama PT Arra Setya Abadi, Ilham Setiadi, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama Aspekpir dan BPDP terus melakukan pendampingan dan sosialisasi sejak akhir 2024 untuk memperkuat rantai usaha ekspor ini.
Menurutnya, minat pasar internasional terhadap lidi sawit menunjukkan tren peningkatan, sehingga membuka peluang lebih luas bagi petani dan UMKM di sentra perkebunan sawit.
Dampak ekonomi bagi ribuan anggota koperasi
Setiyono juga menjelaskan bahwa sedikitnya tujuh koperasi anggota Aspekpir terlibat dalam penyediaan bahan baku ekspor ini. Aktivitas tersebut diperkirakan memberikan dampak ekonomi bagi sekitar 2.800 anggota koperasi yang terlibat langsung dalam rantai produksi.
Apresiasi dari pemerintah daerah
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara turut memberikan apresiasi atas keberhasilan ekspor lidi sawit perdana ini. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut yang diwakili Tsarwah menyampaikan bahwa wilayah tersebut memiliki potensi besar dalam pengembangan produk turunan berbasis limbah sawit.
“Kerja sama dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi petani, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan keberhasilan ekspor seperti ini,” katanya.
| 📡 LIVE