7 Keuntungan Pakai Mobil Listrik, Hemat BBM hingga Nikmati Insentif PKB 0 Persen
![]() |
| Penggunaan mobil listrik disebut memberikan banyak keuntungan bagi penggunanya. (Ilustrasi/Canva) |
PEWARTA.CO.ID — Mobil listrik semakin menjadi pilihan masyarakat seiring berkembangnya teknologi otomotif dan hadirnya berbagai kebijakan yang mendukung penggunaan kendaraan berbasis baterai. Selain menawarkan pengalaman berkendara yang berbeda, kendaraan jenis ini juga memberikan sejumlah keuntungan dari sisi biaya operasional hingga perpajakan.
Salah satu daya tarik terbesar datang dari kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memberikan insentif Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sebesar 0 persen bagi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penggunaan transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Dengan adanya insentif tersebut, pemilik mobil listrik dapat mengurangi beban pajak tahunan. Namun, kendaraan listrik tetap dihitung dalam urutan kepemilikan pada sistem pajak progresif meski nilai PKB yang dikenakan tetap nol persen.
Keuntungan menggunakan mobil listrik
Berikut sejumlah manfaat yang bisa diperoleh ketika menggunakan mobil listrik.
1. Mendapatkan insentif PKB 0 persen
Salah satu keuntungan utama mobil listrik di DKI Jakarta adalah pembebasan PKB melalui insentif sebesar 0 persen. Artinya, kendaraan listrik berbasis baterai tidak dikenai pajak tahunan seperti kendaraan berbahan bakar bensin maupun solar.
Kepala Pusat Data dan Informasi Pendapatan Bapenda DKI Jakarta, Morris Danny, mengatakan, PKB merupakan kewajiban pajak yang dibayarkan pemilik kendaraan setiap tahun.
“Dengan adanya insentif ini, pemilik kendaraan listrik dapat lebih ringan dari sisi kewajiban pajak tahunan,” ucapnya.
Insentif tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi masyarakat yang berencana membeli kendaraan baru, selain memperhatikan harga, biaya perawatan, jarak tempuh, dan fasilitas pengisian daya.
![]() |
| Mobil listrik. (Dok. Canva) |
2. Biaya operasional lebih efisien
Mobil listrik menggunakan energi dari baterai sehingga tidak membutuhkan bahan bakar minyak untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Meski biaya pengisian daya dipengaruhi kapasitas baterai, tarif listrik, lokasi pengisian, hingga pola penggunaan, kendaraan listrik dinilai mampu membantu mengurangi pengeluaran transportasi rutin, terutama bagi pengguna di kawasan perkotaan.
Efisiensi biaya ini menjadi salah satu alasan meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.
3. Membantu mengurangi konsumsi BBM
Pemanfaatan mobil listrik juga mendukung upaya pengurangan penggunaan bahan bakar minyak.
Berbeda dengan kendaraan konvensional yang mengandalkan bensin atau solar, mobil listrik memperoleh tenaga dari energi listrik. Semakin banyak masyarakat beralih ke kendaraan listrik, semakin besar pula peluang menekan konsumsi BBM untuk kebutuhan transportasi.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong efisiensi energi dan penggunaan moda transportasi yang lebih berkelanjutan.
4. Lebih ramah terhadap lingkungan
Keunggulan lain mobil listrik adalah tidak menghasilkan emisi gas buang dari knalpot saat digunakan.
Di tengah tingginya aktivitas transportasi di perkotaan, penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu mengurangi emisi dari sektor transportasi.
Meski pengembangan ekosistem kendaraan listrik masih membutuhkan dukungan infrastruktur pengisian daya dan edukasi kepada masyarakat, penggunaan mobil listrik dinilai menjadi langkah menuju mobilitas yang lebih bersih.
![]() |
| Pengisian daya mobil listrik. (Dok. Canva) |
5. Mendukung program pemerintah
Pemakaian kendaraan listrik juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong transformasi transportasi menuju energi yang lebih efisien dan rendah emisi.
Insentif PKB 0 persen menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah agar penggunaan kendaraan listrik semakin meningkat.
“Dengan membeli dan menggunakan mobil listrik, masyarakat turut mendukung pengurangan konsumsi BBM, pengurangan emisi, serta pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia,” kata Morris.
Karena itu, mobil listrik tidak hanya dipandang sebagai inovasi di dunia otomotif, tetapi juga bagian dari arah baru sistem transportasi nasional.
6. Tetap masuk pajak progresif
Meski memperoleh fasilitas PKB 0 persen, kendaraan listrik tetap dihitung dalam urutan kepemilikan kendaraan untuk penentuan pajak progresif.
Sebagai contoh, jika kendaraan pertama adalah mobil berbahan bakar minyak, kendaraan kedua merupakan mobil listrik, dan kendaraan ketiga kembali kendaraan non-listrik, maka mobil listrik tetap tercatat sebagai kendaraan kedua.
Dalam skema pajak progresif DKI Jakarta, tarif kendaraan pertama sebesar 2 persen, kendaraan kedua 3 persen, kendaraan ketiga 4 persen, kendaraan keempat 5 persen, sedangkan kendaraan kelima dan seterusnya dikenakan tarif 6 persen.
Namun karena mobil listrik mendapatkan insentif PKB 0 persen, besaran pajak yang harus dibayarkan tetap nol persen meskipun masuk dalam urutan kendaraan kedua atau berikutnya.
7. Menjadi pilihan mobilitas masa depan
Perkembangan teknologi, bertambahnya pilihan model kendaraan, serta dukungan berbagai kebijakan membuat mobil listrik semakin layak dipertimbangkan sebagai kendaraan masa depan.
Bagi masyarakat yang membutuhkan kendaraan untuk aktivitas harian, mobil listrik menawarkan kombinasi efisiensi biaya, kenyamanan berkendara, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Selain menghadirkan suara mesin yang lebih senyap, teknologi yang terus berkembang juga menjadi nilai tambah bagi pengguna.
Itulah keuntungan memakai mobil listrik. Dengan berbagai keunggulan tersebut, mobil listrik tidak hanya menawarkan penghematan biaya operasional dan manfaat perpajakan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan sistem transportasi yang lebih efisien, bersih, dan berkelanjutan.
| 📡 LIVE

