Bahlil Dampingi Prabowo Groundbreaking Blok Masela, Proyek LNG Akhirnya Dimulai Setelah 28 Tahun Mangkrak
![]() |
| Bahlil Dampingi Prabowo Groundbreaking Blok Masela, Proyek LNG Akhirnya Dimulai Setelah 28 Tahun Mangkrak |
PEWARTA.CO.ID — Setelah menunggu hampir tiga dekade sejak kontrak awal ditandatangani, Proyek Gas Abadi Blok Masela akhirnya memasuki babak baru. Pemerintah menggelar peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan fasilitas pengolahan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Agenda tersebut dihadiri Presiden Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Keduanya dijadwalkan mengikuti prosesi dimulainya pembangunan fasilitas produksi gas terbesar di Indonesia itu.
Proyek Masela baru dibangun setelah 28 tahun
Lapangan Abadi Blok Masela telah dikembangkan sejak 1998, ketika Pemerintah Indonesia menandatangani kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) dengan perusahaan migas Jepang, Inpex Corporation.
Meski demikian, proyek tersebut belum juga memasuki tahap produksi hingga 28 tahun setelah kontrak diteken. Kondisi itu membuat Blok Masela menjadi salah satu proyek energi yang paling lama tertunda di Indonesia.
Perdebatan offshore dan onshore jadi penyebab keterlambatan
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa keterlambatan pembangunan dipicu oleh perdebatan panjang mengenai lokasi fasilitas produksi, apakah dibangun di lepas pantai (offshore) atau di daratan (onshore).
Menurut Bahlil, pembahasan tersebut berlangsung bertahun-tahun karena berkaitan dengan upaya menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
"Perdebatannya dari saya masih ketua umum HIPMI, perdebatannya hanya di laut atau di darat, itu terus, sampai kita meninggal mungkin masih ada perdebatan itu," kata Bahlil di Jakarta, 11 November 2025.
Ditargetkan produksi pada 2029–2030
Proyek Gas Abadi Blok Masela diproyeksikan memiliki kapasitas produksi LNG sebesar 10,5 juta ton setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 9,5 juta ton merupakan produksi LNG yang diperkirakan setara dengan lebih dari 10 persen kebutuhan impor LNG Jepang dalam setahun.
Selain menghasilkan LNG, lapangan migas tersebut juga diperkirakan mampu memproduksi sekitar 35 ribu barel kondensat per hari.
Bahlil sebelumnya juga melaporkan bahwa sejumlah tahapan penting, termasuk proses Front End Engineering and Design (FEED), telah menunjukkan perkembangan positif. Pemerintah menargetkan proyek yang dioperasikan Inpex Corporation bersama mitranya itu mulai berproduksi pada rentang 2029 hingga 2030.
Investasi capai Rp339 triliun
Pembangunan Proyek Gas Abadi Blok Masela diperkirakan membutuhkan investasi sekitar USD20 miliar atau setara Rp339 triliun.
Pemerintah menilai percepatan proyek tersebut memiliki arti strategis karena diharapkan menjadi sumber pasokan gas bagi kebutuhan industri nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur serta memperkuat ketahanan energi nasional.
| 📡 LIVE