BMKG Operasikan HF Radar Canggih di Sumatera Barat, Percepat Peringatan Dini Tsunami hingga Pantau Kondisi Laut
![]() |
| BMKG Operasikan HF Radar Canggih di Sumatera Barat, Percepat Peringatan Dini Tsunami hingga Pantau Kondisi Laut |
PEWARTA.CO.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengoperasikan teknologi pemantauan laut terbaru berupa High Frequency (HF) Radar Array di wilayah pesisir barat Sumatera. Kehadiran perangkat ini menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem observasi kelautan nasional sekaligus mempercepat penyampaian peringatan dini tsunami.
Selain mendukung mitigasi bencana, teknologi tersebut juga diharapkan meningkatkan keselamatan nelayan serta aktivitas pelayaran yang berlangsung di kawasan pesisir.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pembangunan infrastruktur tersebut menunjukkan komitmen lembaganya dalam mendukung berbagai sektor pembangunan nasional. Menurutnya, BMKG tidak hanya berfokus pada penanggulangan bencana, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan hingga penguatan ekonomi maritim.
"Kami memasang HF Radar ini di tempat-tempat yang strategis untuk mendapatkan informasi kemaritiman terbaik. Melalui alat canggih ini, BMKG dapat mengamati kondisi laut secara terus-menerus dalam cakupan luas, serta memperoleh data arus laut, gelombang, dan arah angin dengan jauh lebih cepat dan akurat," kata Faisal, dikutip Sabtu (4/7/2026).
HF Radar dipasang di dua titik strategis
Saat ini BMKG telah mengoperasikan empat unit HF Radar Array dari total 10 sistem yang direncanakan dipasang di berbagai wilayah Indonesia.
Khusus di Sumatera Barat, radar tersebut ditempatkan di dua lokasi yang saling melengkapi, yakni Masjid Al-Hakim di Kota Padang dan Taman Anas Malik di Kota Pariaman. Penempatan tersebut memungkinkan cakupan pemantauan laut mencapai sekitar 80 kilometer.
Dengan beroperasinya perangkat terbaru ini, Sumatera Barat kini didukung oleh tiga teknologi radar utama milik BMKG.
Ketiga sistem tersebut meliputi Radar Cuaca C-Band di Bandara Minangkabau yang dimanfaatkan untuk mendukung penerbangan dan modifikasi cuaca, Radar Maritim X-Band di kawasan Teluk Bayur untuk pemantauan area pelabuhan, serta HF Radar Maritim yang difokuskan mengawasi wilayah laut lepas.
Data teknologi diperkuat melalui edukasi masyarakat
BMKG menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi akan lebih optimal apabila informasi yang dihasilkan dapat dipahami dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
Karena itu, lembaga tersebut terus menggencarkan berbagai program edukasi melalui kegiatan Sekolah Lapang agar masyarakat semakin siap menghadapi informasi cuaca, iklim, maupun potensi bencana.
Di Sumatera Barat, BMKG telah melaksanakan sebanyak 31 kali Sekolah Lapang Iklim (SLI). Program ini ditujukan untuk membantu petani menentukan waktu tanam hingga tingkat kecamatan sekaligus memilih varietas tanaman yang sesuai saat menghadapi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino.
Selain itu, BMKG juga telah menyelenggarakan enam kali Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN). Melalui program tersebut, nelayan diberikan pelatihan membaca informasi cuaca, arus laut, serta persebaran ikan menggunakan aplikasi InaWIS.
Tidak hanya itu, enam kali Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami juga telah dilaksanakan guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana.
Lima wilayah didorong menjadi Tsunami Ready Community
BMKG saat ini juga tengah mengupayakan lima lokasi di Sumatera Barat agar dapat memperoleh status Tsunami Ready Community, yaitu standar komunitas siaga tsunami yang ditetapkan oleh IOC-UNESCO.
“BMKG saat ini tengah mendorong lima lokasi di Sumatera Barat untuk masuk ke dalam Tsunami Ready Community, sebuah standardisasi komunitas siaga tsunami internasional dari IOC-UNESCO. Hal ini menjadi prioritas karena wilayah pesisir barat Sumatra langsung berhadapan dengan Samudera Hindia dan memiliki kepadatan penduduk yang tinggi,” ujarnya.
Menurut BMKG, program tersebut menjadi prioritas mengingat wilayah pesisir barat Sumatera berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dan memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi sehingga membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih baik.
Proyek hasil kerja sama Indonesia dan Prancis
Pengoperasian HF Radar Array merupakan bagian dari proyek strategis yang dijalankan atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
Pelaksanaannya didukung melalui kerja sama internasional antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Prancis, dengan Agence Française de Développement (AFD) sebagai pemberi pendanaan serta Collecte Localisation Satellites (CLS) sebagai penyedia teknologi.
Menutup keterangannya, Faisal mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga keberlangsungan operasional serta kondisi fisik infrastruktur HF Radar Array agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
"Mari kita jaga bersama-sama agar fasilitas ini dapat beroperasi optimal, mendatangkan barokah terbaik, serta terus memberikan perlindungan keselamatan bagi kita semua secara berkelanjutan," pungkasnya.
| 📡 LIVE