Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Advertisement
| 📡 LIVE

ACARA: Pengajian Akbar bersama KH. Lukman Syafi'i dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 2026 / 1 Muharram 1448 H. Disiarkan langsung dari Kediri, Jawa Timur. Dimeriahkan bintang tamu grup lawak Cak Percil Cs.

Pengusaha Angkot Akui Belum Siap Gunakan Biodiesel B50, Biaya Perawatan Mesin Bisa Naik

Pengusaha angkot belum siap pakai biodiesel B50 karena kendaraan belum kompatibel. Simak dampak B50 terhadap biaya perawatan mesin dan operasional.

Pengusaha Angkot Akui Belum Siap Gunakan Biodiesel B50, Biaya Perawatan Mesin Bisa Naik
Pengusaha Angkot Akui Belum Siap Gunakan Biodiesel B50, Biaya Perawatan Mesin Bisa Naik

PEWARTA.CO.ID — Rencana penerapan biodiesel B50 mulai menjadi perhatian pelaku usaha transportasi darat. Organisasi Angkutan Darat (Organda) menyebut banyak operator angkutan belum memiliki kesiapan penuh untuk menggunakan bahan bakar dengan campuran biodiesel hingga 50 persen tersebut.

Kekhawatiran utama muncul karena kendaraan yang saat ini masih digunakan oleh sebagian besar pelaku usaha angkutan dinilai belum dirancang khusus untuk konsumsi bahan bakar B50. Kondisi itu diperkirakan dapat memberikan dampak terhadap performa kendaraan sekaligus meningkatkan biaya operasional.

Ketua DPP Organda Adrianto Djokosoetono mengatakan bahwa armada angkutan yang beroperasi saat ini belum sepenuhnya mendukung penggunaan biodiesel dengan kadar campuran tinggi.

"Kalau ditanya kesiapan, ya kita tidak siap. Kendaraannya memang tidak disiapkan untuk B50," kata Adrianto usai Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Organda di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Menurut Adrianto, apabila pemerintah nantinya menghentikan distribusi solar dan mengalihkan seluruh penggunaan bahan bakar ke B50, para pengusaha angkutan harus menghadapi konsekuensi berupa perubahan pola perawatan kendaraan.

Kendaraan dinilai belum optimal menggunakan B50

Sekretaris Jenderal DPP Organda Kurnia Lesani Adnan menjelaskan, dari sisi teknis, spesifikasi mesin kendaraan angkutan yang ada sekarang belum seluruhnya sesuai dengan karakteristik biodiesel B50.

Penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi berpotensi menimbulkan masalah pada sistem bahan bakar kendaraan. Salah satu risiko yang dikhawatirkan adalah munculnya endapan atau sludge yang dapat mengganggu aliran bahan bakar.

Selain itu, beberapa komponen kendaraan juga berpotensi mengalami penyumbatan sehingga operator harus melakukan perawatan lebih sering dibandingkan sebelumnya.

Kurnia menyebut langkah penyesuaian yang mungkin dilakukan adalah mempercepat penggantian filter bahan bakar. Namun, hal tersebut otomatis akan membuat biaya operasional armada ikut meningkat.

"Karena itu, kami harus berimprovisasi dalam operasional, salah satunya dengan memendekkan usia pakai filter solar. Konsekuensinya, biaya operasional menjadi naik," tambahnya.

Organda tetap akan menyesuaikan jika kebijakan berjalan

Meski mengaku belum siap menghadapi perubahan menuju biodiesel B50, Organda menyadari pelaku usaha transportasi tetap harus mengikuti kebijakan pemerintah apabila program tersebut diberlakukan secara nasional.

Para operator angkutan nantinya perlu melakukan berbagai penyesuaian agar kendaraan tetap dapat digunakan dalam kondisi bahan bakar baru.

Pemerintah sendiri sebelumnya telah menyiapkan rencana penerapan biodiesel B50 sebagai lanjutan dari program biodiesel yang saat ini masih menggunakan campuran B40.

Implementasi B50 dimulai secara bertahap

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penggunaan biodiesel B50 mulai diterapkan pada 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut dilakukan dengan meningkatkan kandungan FAME dari sebelumnya 40 persen menjadi 50 persen.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaiman menjelaskan bahwa perubahan dari B40 ke B50 hanya berada pada komposisi campuran FAME. Sementara itu, mekanisme penetapan harga biodiesel belum mengalami perubahan.

Meski jadwal peluncuran B50 sudah ditetapkan, pemerintah memberikan waktu transisi agar distribusi dapat berjalan secara bertahap. Masa penyesuaian ini diberikan untuk menghabiskan stok B40 yang masih tersedia di berbagai daerah.

"Penerapannya secara nasional. Tentu ada masa jeda untuk penyesuaiannya. Sisa-sisa B40 dihabiskan dulu, diberi waktu sampai tiga bulan hingga menjadi 100 persen pemenuhan ke B50," ujar Laode.

Dengan rencana peralihan tersebut, sektor transportasi menjadi salah satu pihak yang perlu melakukan penyesuaian besar. Bagi pengusaha angkutan, kesiapan kendaraan dan perubahan biaya perawatan menjadi perhatian utama sebelum penggunaan biodiesel B50 diberlakukan sepenuhnya.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
Redaksi Pewarta.co.id
Redaksi Pewarta.co.id
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • Pengusaha Angkot Akui Belum Siap Gunakan Biodiesel B50, Biaya Perawatan Mesin Bisa Naik
  • Pengusaha Angkot Akui Belum Siap Gunakan Biodiesel B50, Biaya Perawatan Mesin Bisa Naik
  • Pengusaha Angkot Akui Belum Siap Gunakan Biodiesel B50, Biaya Perawatan Mesin Bisa Naik
  • Pengusaha Angkot Akui Belum Siap Gunakan Biodiesel B50, Biaya Perawatan Mesin Bisa Naik
  • Pengusaha Angkot Akui Belum Siap Gunakan Biodiesel B50, Biaya Perawatan Mesin Bisa Naik
  • Pengusaha Angkot Akui Belum Siap Gunakan Biodiesel B50, Biaya Perawatan Mesin Bisa Naik
Advertisement
Advertisement
Advertisement