SPBU Pertamina Target Jual BBM B50 Mulai Oktober 2026, Ini Dampaknya bagi Energi Indonesia
![]() |
| SPBU Pertamina Target Jual BBM B50 Mulai Oktober 2026 |
PEWARTA.CO.ID — Pemerintah menargetkan seluruh SPBU Pertamina mulai menjual BBM B50 pada 1 Oktober 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari program mandatori biodiesel nasional yang mengubah komposisi bahan bakar menjadi campuran 50 persen solar dan 50 persen bahan bakar berbasis minyak nabati.
Pelaksanaan program B50 saat ini masih berada dalam tahap transisi selama tiga bulan. Pemerintah bersama Pertamina melakukan penyesuaian secara bertahap untuk memastikan peralihan dari biodiesel B40 menuju B50 berjalan lancar tanpa mengganggu pasokan energi nasional.
Seluruh SPBU ditargetkan menjual B50
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menyampaikan bahwa seluruh SPBU Pertamina ditargetkan sudah menyediakan BBM B50 pada awal Oktober 2026.
"Ditargetkan pada 1 Oktober 2026, seluruh SPBU sudah menjual B50," ujar Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Program mandatori B50 sendiri mulai diberlakukan pemerintah sejak 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Qodari, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan biodiesel B50 secara nasional. Program tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri, serta memperkuat kemandirian energi.
"Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan biodiesel B50 secara nasional. Kebijakan ini menjadi bagian dari agenda strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional, serta menjaga ketahanan ekonomi dan energi Indonesia," katanya.
Program biodiesel nasional sebenarnya telah berjalan sejak 2008. Pada awal penerapannya, pemerintah menggunakan campuran biodiesel B2,5 sebelum secara bertahap meningkat hingga mencapai standar B50.
B50 diproyeksikan hemat devisa Rp170 triliun
Pemerintah memperkirakan penerapan BBM B50 dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Salah satunya melalui penghematan devisa negara yang diproyeksikan mencapai Rp170 triliun sepanjang 2026.
"Program ini diarahkan untuk menghentikan impor solar sepenuhnya. B50 diproyeksikan dapat menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun pada 2026," tuturnya.
Selain mengurangi kebutuhan impor solar, kebijakan tersebut juga diproyeksikan meningkatkan nilai tambah industri minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) hingga Rp23,49 triliun.
Program B50 juga diperkirakan mampu membuka peluang penyerapan tenaga kerja sekitar 2,1 juta orang. Dari sisi lingkungan, pemerintah memperkirakan penggunaan biodiesel ini dapat menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO₂ pada tahun ini.
Untuk memastikan kesiapan implementasi, pemerintah telah melakukan berbagai pengujian penggunaan B50 pada sejumlah sektor yang menggunakan mesin diesel. Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan performa, keamanan, serta kesesuaian penggunaan bahan bakar tersebut.
"Dari aspek pasokan dan distribusi, pemerintah memastikan kesiapan kapasitas produksi biodiesel, ketersediaan bahan baku, serta infrastruktur pencampuran (blending) dan distribusi," kata Qodari.
Pertamina siapkan transisi B40 menuju B50
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) memastikan proses perubahan dari biodiesel B40 menuju B50 dilakukan secara bertahap hingga 30 September 2026.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan perusahaan siap menjalankan mandat pemerintah setelah program Biodiesel B50 resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026.
Pertamina telah menyiapkan berbagai kebutuhan operasional, mulai dari infrastruktur, sistem distribusi, hingga rantai pasok biodiesel agar penerapan B50 dapat berjalan sesuai aturan yang berlaku.
"Sesuai ketentuan pemerintah, Program Mandatori B50 akan memasuki masa transisi hingga 30 September 2026. Selama periode tersebut, Pertamina melakukan penyesuaian penyaluran secara bertahap guna mendukung kelancaran peralihan dari B40 menuju B50 dengan tetap menjaga keandalan pasokan energi nasional," kata Simon dalam keterangan resmi.
Melalui masa transisi tersebut, Pertamina melakukan pengaturan distribusi secara bertahap agar kebutuhan energi masyarakat dan sektor industri tetap terpenuhi.
B50 diharapkan kurangi impor solar
Pertamina menilai program B50 menjadi salah satu strategi penting pemerintah dalam meningkatkan penggunaan energi berbasis sumber daya domestik.
Implementasi penuh B50 diperkirakan mampu mengurangi impor solar hingga sekitar 18 juta kiloliter pada 2026. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 310 ribu barel per hari.
Pengurangan impor tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan pengalaman perusahaan dalam menjalankan program biodiesel sebelumnya menjadi modal penting dalam proses menuju B50.
Pengalaman menjalankan program B20, B30, B35, hingga B40 disebut menjadi bekal bagi Pertamina untuk memastikan proses transisi berjalan sesuai rencana.
Menurut Baron, Pertamina bersama Pertamina Patra Niaga telah mempersiapkan berbagai aspek operasional, termasuk fasilitas, distribusi, serta koordinasi dengan pemerintah dan pihak terkait.
"Kami juga memastikan kualitas Biosolar B50 yang disalurkan memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan pemerintah sehingga masyarakat dapat memperoleh produk dengan mutu yang tetap terjaga," ujarnya.
Sebelum pelaksanaan penuh B50, Pertamina bersama pemerintah dan sejumlah pemangku kepentingan juga telah melakukan berbagai pengujian terkait kesiapan fasilitas, kualitas produk, serta sistem distribusi di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan adanya masa transisi hingga akhir September 2026, pemerintah berharap perubahan dari B40 menuju B50 dapat berlangsung secara optimal tanpa menghambat ketersediaan energi bagi masyarakat maupun dunia usaha.
| 📡 LIVE