Festival Jaranan Trenggalek ke-30 Masuk KEN 2026, Siap Naik ke Level Nasional
![]() |
| Festival Jaranan Trenggalek Terbuka ke-30 2026 resmi dibuka di Alun-alun Trenggalek dan masuk dalam KEN 2026. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) ke-30 2026 mencatat tonggak baru setelah masuk dalam 125 event terpilih Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
FJTT 2026 resmi dibuka di Alun-alun Trenggalek, Minggu (20/9/2026) malam, dan akan berlangsung hingga 26 September 2026. Tahun ini menjadi pertama kalinya festival yang telah konsisten digelar selama tiga dekade tersebut masuk dalam kalender KEN.
Kementerian Pariwisata menetapkan 125 event dari 38 provinsi sebagai bagian dari KEN 2026. FJTT menjadi salah satu event unggulan Jawa Timur yang mendapat ruang dalam kalender pariwisata nasional.
Pembukaan festival dihadiri sekaligus dilakukan secara resmi oleh Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Raden Wisnu Sindhutrisno. Kehadiran perwakilan Kementerian Pariwisata menandai semakin luasnya perhatian terhadap FJTT sebagai agenda budaya daerah.
BACA JUGA!
Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Dimulai, FJTT ke-30 jadi Wisata Budaya Paling Dinanti
FJTT ke-30 diikuti 58 peserta
FJTT 2026 digelar selama enam hari, mulai 20 hingga 26 September. Sebanyak 58 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur ambil bagian dalam kompetisi yang menjadi bagian utama festival.
Kategori yang diperlombakan mencakup Turonggo Yakso untuk tingkat anak, remaja, SLTA, dan umum. Selain itu, tersedia kategori non-Turonggo Yakso untuk peserta tingkat SLTA dan umum.
Penyelenggaraan selama tiga dekade menjadi salah satu alasan FJTT dinilai memiliki sejarah dan konsistensi yang kuat dalam menjaga keberadaan seni jaranan di Trenggalek.
Kementerian Pariwisata dorong FJTT ke tingkat nasional
Raden Wisnu Sindhutrisno mengatakan masuknya FJTT dalam KEN 2026 menjadi momentum untuk mengembangkan festival tersebut ke cakupan yang lebih luas.
Menurut Wisnu, konsistensi seniman dan budayawan Trenggalek selama 30 tahun menjadi modal penting untuk membawa FJTT ke level nasional, bahkan membuka peluang pengembangan ke panggung internasional.
“Yang luar biasa, Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 ini, karena akhirnya setelah 30 tahun penyelenggaraan dengan sejarah yang sangat panjang, konsistensi yang sangat luar biasa dari para seniman dan budayawan di Trenggalek, kami akhirnya melihat bahwa ini bisa kami angkat dan harus kami angkat ke level nasional dan bahkan ke level internasional,” ujar Wisnu.
Kementerian Pariwisata memasukkan FJTT ke dalam KEN mulai 2026 dengan harapan kualitas penyelenggaraan festival terus diperkuat. Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk memperluas keterlibatan generasi muda dalam pelestarian seni tradisi.
Wisnu menilai regenerasi menjadi bagian penting agar seni jaranan tetap berkembang dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Ke depannya event ini akan bisa semakin terus diperkuat, semakin ditingkatkan kualitasnya, dan semakin menggalang lebih banyak generasi muda sehingga bisa menciptakan regenerasi budaya yang bisa kita tampilkan ke forum internasional,” ujarnya.
BACA JUGA!
Jadwal Festival Jaranan Trenggalek 20-26 September 2026, Pecinta Budaya Wajib Merapat ke Alun-alun Trenggalek
Jaranan menjadi daya tarik wisata Trenggalek
Masuknya FJTT dalam KEN 2026 tidak hanya berkaitan dengan pelestarian seni tradisi. Wisnu juga melihat jaranan sebagai salah satu potensi budaya yang dapat memperkuat daya tarik wisata Kabupaten Trenggalek.
Menurutnya, kekayaan budaya setiap daerah dapat menjadi identitas sekaligus daya tarik bagi wisatawan. Potensi tersebut dapat dikembangkan bersama dengan agenda wisata dan budaya dari daerah lain.
Wisnu mencontohkan Reog di Ponorogo dan Rontek di Pacitan sebagai kesenian daerah yang dapat menjadi bagian dari pengembangan pariwisata regional.
“Trenggalek ini dengan Festival Jaranannya, dengan keunikannya, itu akan menjadi magnet, menjadi daya tarik tersendiri,” katanya.
Kementerian Pariwisata juga mendorong kolaborasi berbagai event budaya dalam satu rangkaian kalender pariwisata antardaerah. Dengan pola tersebut, wisatawan diharapkan memiliki lebih banyak pilihan destinasi setelah menghadiri sebuah festival.
Kolaborasi antarevent juga diharapkan dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan. Dampaknya diharapkan ikut dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat di sekitar destinasi wisata.
Dengan masuknya FJTT ke KEN 2026, festival jaranan yang telah bertahan selama 30 tahun tersebut kini memiliki ruang lebih luas untuk diperkenalkan sebagai bagian dari kalender event pariwisata nasional.
