Panduan Berkunjung ke Kota Lama Semarang Saat Festival: Akses dan Aktivitas
![]() |
| Ilustrasi kawasan Kota Lama Semarang dengan kemeriahan festival yang digelar menjadi daya tarik wisatawan. (Dok. PEWARTA/AI) |
PEWARTA.CO.ID — Festival Kota Lama Semarang 2026 menjadi salah satu momentum menarik untuk menikmati kawasan bersejarah tersebut dengan suasana yang berbeda. Festival Kota Lama (FKL) XV yang semula dijadwalkan 4–13 September kini diperpanjang hingga 20 September 2026, bertepatan dengan rangkaian MTQ Nasional XXXI di Semarang.
Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang, waktu kunjungan perlu diperhitungkan karena beberapa agenda berlangsung di ruang terbuka dan sejumlah ruas jalan di sekitar Kota Lama dapat mengalami pengaturan lalu lintas pada jam tertentu.
Panduan ini merangkum pilihan akses, lokasi parkir yang disiapkan, serta aktivitas yang dapat dipilih berdasarkan jadwal festival sehingga kunjungan tidak berhenti pada sekadar berjalan-jalan dan berfoto.
Festival Kota Lama Semarang berlangsung hingga 20 September
Perpanjangan FKL XV 2026 menjadi 4–20 September merupakan keputusan terbaru pemerintah daerah. Sebelumnya, agenda tersebut direncanakan berakhir pada 13 September.
Perubahan jadwal ini membuat wisatawan mempunyai waktu lebih panjang untuk mengunjungi Kota Lama, termasuk ketika rangkaian MTQ Nasional XXXI berlangsung pada 11–20 September.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut sekitar 7.000 orang dari berbagai provinsi diperkirakan hadir dalam MTQ Nasional. Kondisi tersebut berpotensi membuat kawasan wisata dan pusat kegiatan di Semarang lebih ramai dibanding hari biasa.
Festival tahun ini mengusung tema Unity in Diversity dan memadukan seni, budaya, sejarah, komunitas, kuliner, serta kegiatan ekonomi kreatif.
Akses ke Kota Lama Semarang
Kota Lama berada di kawasan Tanjung Mas, Semarang Utara, dan terhubung dengan sejumlah titik transportasi penting kota. Pemerintah Kota Semarang mencatat Stasiun Tawang sebagai salah satu simpul transportasi yang berada tidak jauh dari kawasan Kota Lama.
1. Datang menggunakan kereta
Kereta menjadi salah satu pilihan praktis bagi wisatawan dari luar Semarang. Stasiun Semarang Tawang berada di kawasan yang berdekatan dengan Kota Lama dan secara historis memang memiliki hubungan erat dengan perkembangan kawasan perdagangan tersebut.
Setelah tiba di stasiun, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju kawasan festival menggunakan transportasi lokal atau berjalan kaki menuju titik acara yang dituju. Pilihan paling tepat bergantung pada lokasi agenda dan kondisi lalu lintas ketika kunjungan berlangsung.
Stasiun Poncol juga tercatat sebagai salah satu simpul transportasi utama Kota Semarang, meski lokasi kedatangannya perlu disesuaikan dengan moda lanjutan menuju Kota Lama.
2. Datang menggunakan kendaraan pribadi
Pengunjung yang membawa mobil atau sepeda motor sebaiknya tidak menjadikan ruas utama di dalam kawasan festival sebagai tujuan parkir. Kepadatan kendaraan dapat meningkat terutama ketika agenda sore dan malam berlangsung.
Pada pelaksanaan festival, sejumlah kantong parkir disiapkan, antara lain Metro Point, area parkir Stasiun Tawang, parkir Spiegel, eks Hotel Aston, dan kawasan Sendowo. Pengunjung dianjurkan mengikuti arahan petugas serta menggunakan lokasi yang telah disediakan.
Strategi tersebut lebih aman dibanding memaksakan kendaraan masuk ke koridor utama Kota Lama ketika aktivitas festival sedang padat.
3. Perhatikan rekayasa lalu lintas
Festival juga disertai pengaturan lalu lintas pada waktu-waktu tertentu. Pada beberapa hari pelaksanaan, rekayasa arus diberlakukan sekitar pukul 16.00–22.00 WIB, terutama ketika kegiatan Car Free Night berlangsung.
Pada periode tersebut, arus menuju Kota Lama dari arah tertentu dapat dialihkan melalui ruas lain. Karena skema dapat berubah mengikuti agenda dan kondisi lapangan, pengunjung yang membawa kendaraan sebaiknya memperhatikan rambu serta petunjuk petugas sebelum memasuki kawasan.
Bagi yang tidak memiliki keperluan ke Kota Lama pada jam festival, Dinas Perhubungan juga mengimbau pengguna jalan untuk mempertimbangkan jalur alternatif guna menghindari kepadatan di sekitar Stasiun Tawang dan kawasan acara.
Aktivitas yang bisa dilakukan saat festival
Festival Kota Lama tidak hanya menawarkan panggung pertunjukan. Programnya dibuat tersebar sehingga wisatawan dapat menggabungkan aktivitas festival dengan eksplorasi kawasan heritage.
1. Menjelajah Pasar Malam Sentiling
![]() |
| Pasar Malam Sentiling Kota Lama Semarang. (Dok. detikcom) |
Salah satu agenda yang paling mudah dimasukkan ke dalam rencana perjalanan adalah Pasar Malam Sentiling. Agenda kuliner tersebut berlangsung pada 4–13 September dan menjadi bagian dari rangkaian festival di kawasan Metro Point.
Konsepnya membawa kuliner tempo dulu dan makanan legendaris ke dalam suasana kawasan Kota Lama. Bagi wisatawan yang ingin menggabungkan wisata sejarah dengan kuliner, agenda ini dapat menjadi pilihan terutama pada sore hingga malam.
2. Menonton pertunjukan seni
Rangkaian FKL XV juga menghadirkan Orkes on the Street and Dance, Wayang Orang on the Street, Festival Folklore Kota Lama, serta berbagai pertunjukan budaya lainnya.
Beberapa pertunjukan berlangsung di ruang terbuka sehingga pengunjung dapat menyaksikan seni pertunjukan sekaligus menikmati suasana bangunan kolonial di sekitarnya.
Festival Folklore Kota Lama dijadwalkan pada 18–19 September, sedangkan pertunjukan 1.000 Angklung Berkebaya dijadwalkan pada 19 September. Dua agenda tersebut menjadi salah satu rangkaian utama menjelang akhir festival.
3. Mengikuti kegiatan edukatif
FKL XV juga menyediakan aktivitas yang melibatkan masyarakat dan generasi muda. Salah satunya adalah kegiatan merangkai janur yang tidak hanya mengajarkan keterampilan membuat ketupat atau hiasan tradisional, tetapi juga memperkenalkan makna di balik kerajinan tersebut.
Program seperti ini memberikan pengalaman berbeda karena pengunjung tidak sekadar menjadi penonton. Mereka dapat melihat bagaimana unsur tradisi dipraktikkan dan diperkenalkan kembali dalam ruang publik.
4. Bersepeda dan berjalan kaki
Kota Lama Semarang juga cocok dieksplorasi dengan berjalan kaki karena daya tarik utamanya tersebar dalam satu kawasan bersejarah. Badan Otorita Borobudur mencatat wisatawan dapat menyusuri sejumlah titik seperti Monod Diephuis, Gereja Blenduk, Jembatan Berok, Jalan Empu Tantular, Marabunta, dan Jalan Letjen Suprapto.
Saat festival berlangsung, berjalan kaki menjadi pilihan yang semakin relevan karena sebagian ruas dapat lebih ramai oleh kendaraan maupun aktivitas acara.
Sahabat Pewarta juga dapat menyisihkan waktu untuk menikmati detail bangunan, ruang publik, toko, galeri, dan tempat makan yang berada di sepanjang kawasan, bukan hanya mengejar satu titik pertunjukan.
Waktu terbaik menyesuaikan agenda
Tidak semua wisatawan membutuhkan pengalaman yang sama. Jika tujuan utama adalah kuliner, sore hari dapat dipilih untuk berkunjung ke area Pasar Malam Sentiling sebelum melanjutkan eksplorasi bangunan dan ruang publik.
Untuk pertunjukan seni dan suasana festival, rentang sore hingga malam menjadi waktu yang lebih relevan karena banyak agenda disusun pada periode tersebut. Namun, konsekuensinya adalah kepadatan pengunjung dan kendaraan juga berpotensi meningkat.
Wisatawan yang mengutamakan eksplorasi arsitektur dapat datang lebih awal, berjalan menyusuri kawasan sebelum agenda malam dimulai, lalu memilih satu pertunjukan sebagai penutup kunjungan.
Contoh susunan kunjungan
Agar tidak terlalu banyak berpindah tempat, perjalanan dapat dibuat sederhana:
| Waktu | Aktivitas |
|---|---|
| Siang | Tiba di Semarang dan menuju Kota Lama |
| Sore | Berjalan kaki menyusuri bangunan heritage |
| Sore–petang | Menikmati agenda seni atau Pasar Malam Sentiling sesuai tanggal |
| Malam | Menonton pertunjukan utama atau menikmati kuliner |
| Setelah acara | Kembali ke titik parkir atau transportasi |
Susunan tersebut bukan jadwal resmi festival, melainkan contoh pola kunjungan. Agenda, lokasi, dan jam pertunjukan tetap perlu diperiksa kembali sebelum berangkat karena rangkaian acara berlangsung pada tanggal dan lokasi yang berbeda.
Jangan hanya datang untuk satu acara
Kekuatan Festival Kota Lama Semarang justru terletak pada pertemuan antara acara dan kawasan yang menjadi latarnya. Pengunjung dapat menonton pertunjukan, mencicipi kuliner, menyusuri bangunan bersejarah, lalu berpindah ke agenda komunitas tanpa harus meninggalkan kawasan utama.
Perpanjangan festival hingga 20 September juga membuat pilihan waktu kunjungan menjadi lebih fleksibel. Bagi wisatawan yang ingin menghindari puncak keramaian, memilih hari dan agenda yang tidak bertepatan dengan acara besar dapat menjadi pertimbangan.
Sementara itu, mereka yang ingin mendapatkan suasana festival paling kuat dapat mempertimbangkan rangkaian utama pada 18–19 September, dengan konsekuensi kawasan berpotensi lebih ramai.
Pada akhirnya, cara menikmati Kota Lama saat festival bukan sekadar menentukan bagaimana mencapai lokasi. Yang tidak kalah penting adalah memilih agenda, mengantisipasi perubahan lalu lintas, dan memberi cukup waktu untuk menikmati kawasan bersejarah yang menjadi latar seluruh perayaan.

