Notification

×

Redaksi Samping

Medsos Samping

Ikuti kami di: / / / /

Translate

Billboard 1045x250 Dekstop

Bawah Navigasi Mobile

Penentuan Awal Ramadhan Pemerintah dan Muhammadiyah Berpotensi Beda

Rabu, 30 Maret 2022 | 22:36 WIB Last Updated 2022-03-30T15:36:01Z

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA


Proses Pemantauan Hilal
Proses pemantauan hilal

PEWARTA.CO.ID - Penentuan Awal puasa atau tanggal 1 Ramadhan tahun ini berpotensi mengalami perbedaan antara yang diputuskan pemerintah dengan PP Muhammadiyah.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Urusan Agama dan Pembinaan Syariah Kemenag RI, Adib, dalam sesi diskusi yang digelar secara daring, Senin (28/3/2022) lalu.

Adib menjelaskan, perbedaan penetapan awal Ramadhan terjadi karena berbedanya metode pendekatan yang digunakan kedua lembaga tersebut.

"Salah satu di antaranya ada menggunakan pendekatan ihwal hisab atau hisab secara murni," ujarnya dikutip dari Kompas.

Melihat potensi perbedaan penentuan awal puasa, Adib menyampaikan jika pihak Kemenag akan melakukan sidang isbat bersama organisasi-organisasi Islam dan Majelis Ulama Indonesia.

"Jadi nanti pada saat sidang isbat itu kita akan menentukan terkait dengan awal bulan Ramadhan 1443 Hijriah, apakah kemudian jatuh pada tanggal 2 April atau di tanggal 3 April," ucapnya.

Nantinya, keputusan penetapan 1 Ramadhan akan bergantung pada hasil laporan para petugas yang melakukan pemantauan hilal di beberapa titik di seluruh Indonesia.

Menurut laporan Kemenag, ada 101 titik yang dijadikan lokasi pemantauan hilal.

Prediksi Awal Ramadhan versi berbagai lembaga


Sebelumnya, Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN memprediksi 1 Ramadhan 1443 Hijrah akan jatuh pada tanggal 3 April 2022.

Hal itu berbeda dengan hasil perhitungan PP Muhammadiyah yang menetapkan awal puasa jatuh pada 2 April 2022.

Sementara itu, Profesor riset bidang Astronomi dan Antrofisika, Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin menjelaskan, ketinggian hilal pada 1 April 2022 hanya sedikit di atas 2 derajat.

Hal itu menurutnya membuat hilal mustahil terlihat di wilayah Indonesia pada tanggal tersebut. Artinya, jika ternyata hilal belum akan terlihat pada 1 April mendatang, maka jumlah hari pada bulan Sya'ban tahun ini akan digenapkan menjadi 30 hari.

Thomas menambahkan, sejak tahun 2022 ini penentuan awal Ramadhan telah menggunakan kriteria baru yang disebut dengan MABIMS, kriteria yang juga digunakan oleh negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

"Sejak awal 2022 Kementerian Agama mengadopsi kriteria baru MABIMS, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Dengan kriteria baru tersebut, posisi bulan di wilayah Indonesia dan negara-negara Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura belum memenuhi kriteria," terangnya.

Meski masih menjadi simpang-siur terkait kapan 1 Ramadhan ditetapkan, Thomas mengimbau masyarakat untuk sabar menunggu hasil sidang isbat pada Jumat, 1 April 2022 mendatang.

Keputusan PP Muhammadiyah Tentang Awal Ramadhan


Berbeda dengan lembaga lainnya, PP Muhammadiyah justru sudah lebih dulu memantapkan keputusan kapan awal puasa tahun ini akan dimulai.

Sesuai perhitungan Muhammadiyah, awal puasa akan ditetapkan pada 2 April 2022, sesuai Maklumat Nomor 01/MLM/I.0/E/2022 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1443 Hijriah.

Dalam maklumat tersebut juga disebutkan masa durasi bulan puasa 2022 adalah 30 hari seja ditetapkannya awal Ramadhan. Artinya, Muhammadiyah akan merayakan Idul Fitri tepat pada 2 Mei 2022 mendatang.

(jwo/sap)

Dapatkan berita terkini lainnya, serta viral hari ini di Indonesia terbaru dan terpopuler dari Pewarta.co.id melalui platform Google News.
close