Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Kasus Hantavirus, Puan Maharani Singgung Trauma Masyarakat Pascacovid-19 di Tengah Kekhawatiran Baru

Kasus Hantavirus, Puan Maharani Singgung Trauma Masyarakat Pascacovid-19 di Tengah Kekhawatiran Baru
Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Munculnya kembali sorotan terhadap Kasus Hantavirus memicu perhatian serius dari Ketua DPR RI Puan Maharani. Ia menekankan pentingnya langkah pemerintah yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada pendekatan perlindungan masyarakat yang lebih luas, terutama di tengah kondisi psikologis publik yang masih dipengaruhi pengalaman pandemi Covid-19.

Pemerintah diminta jaga kepercayaan publik

Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (12/5/2026), Puan menegaskan bahwa penanganan penyakit baru atau yang belum umum dikenal membutuhkan strategi yang menyeluruh. Hal ini termasuk menjaga kepercayaan masyarakat agar tidak muncul kepanikan berlebihan.

“Tantangan terbesar dalam menghadapi munculnya ancaman penyakit yang belum umum perlu dilakukan dari berbagai aspek. Bukan hanya aspek medis saja, tetapi juga pada kemampuan negara menjaga kepercayaan masyarakat langkah antisipasi yang terukur," kata Ketua DPP PDIP ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Trauma Covid-19 masih membekas di masyarakat

Meski tingkat penularan Hantavirus tidak secepat maupun seberat Covid-19, Puan menilai kekhawatiran publik tetap tinggi. Hal ini tidak lepas dari pengalaman masyarakat saat awal pandemi yang penuh ketidakpastian.

“Negara perlu memastikan bahwa setiap informasi mengenai penyakit menular disampaikan secara transparan dan bertanggung jawab. Agar tidak memunculkan ketakutan maupun kebingungan di tengah masyarakat,” ucap Puan.

Dorongan sosialisasi dan edukasi pencegahan

Lebih lanjut, Puan mendorong pemerintah untuk meningkatkan sosialisasi terkait Hantavirus, mulai dari cara penularan hingga kelompok yang paling rentan terdampak.

“Bagaimana pola penularannya, siapa kelompok yang paling rentan, bagaimana langkah pencegahannya. Dan sejauh mana tingkat risikonya bagi masyarakat umum,” ujar Puan.

Ia menilai pemahaman yang utuh dari masyarakat menjadi kunci penting dalam mencegah kepanikan sekaligus meminimalisasi risiko penyebaran penyakit zoonosis tersebut.

Sorotan global dan temuan kasus di Indonesia

Hantavirus sebelumnya menjadi perhatian dunia setelah kasus pada kapal pesiar mewah MV Hondius yang berlayar di Samudera Atlantik. Dalam insiden tersebut, tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia akibat virus tersebut, sehingga menimbulkan kekhawatiran global.

Salah satu variannya, yakni Andes virus, bahkan diketahui memiliki potensi penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu.

Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 23 kasus Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi, sebagaimana sebelumnya disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kasus suspek di Kulon Progo dinyatakan negatif

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, sempat melaporkan adanya kasus suspek Hantavirus pada salah satu warganya. Namun hasil pemeriksaan laboratorium dari Kemenkes RI memastikan hasilnya negatif.

"Pada tahun 2026 ini memang ada suspek Hanta Virus. Tetapi hasilnya sudah keluar dua hari lalu dan hasilnya negatif," kata Kepala Dinkes Kulon Progo Susilaningsih seperti dilansir Antara, Minggu, 10 Mei 2026.

Meski hasilnya negatif, masyarakat tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap tikus yang diketahui sebagai salah satu perantara utama penularan Hantavirus.

Advertisement
Advertisement
Advertisement