Notification

×

Redaksi Samping

Medsos Samping

Ikuti kami di: / / / /

Translate

Billboard 1045x250 Dekstop

Bawah Navigasi Mobile

5 Fakta Menarik Suku Abui di Alor NTT, Dulu Dijuluki Pemburu Kepala Manusia, Kok Bisa?

Minggu, 28 Agustus 2022 | 13:48 WIB Last Updated 2022-08-28T06:48:54Z

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA


5 Fakta Menarik Suku Abui di Alor NTT, Dulu Dijuluki Pemburu Kepala Manusia, Kok Bisa?
Fakta menarik Suku Abui di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Dok. Wikidata)

PEWARTA.CO.ID - Ada fakta menarik seputar Suku Abui di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka memiliki rumah sakral, bahkan terbiasa hidup tanpa listrik.


Setidaknya terdapat 5 fakta menarik seputar Suku Abui di Alor, NTT, yang belum banyak diketahui.


Suku yang berada di lereng sebuah bukit di kawasan Alor Utara tersebut terdiri dari 14 Kepala Keluarga.


Berdasarkan data kependudukan, Suku Abui menempati sebuah desa bernama Takpala.


Desa Takpala adalah sebuah area perkampungan yang masuk di wilayah Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, NTT.


Jangan harap menemukan kehidupan modern di tempat ini. Pasalnya, Suku Abui terbiasa hidup dengan menggunakan listrik, sesuai prinsip turun-temurun dari leluhur mereka.


Baca juga: 3 Kuliner Legendaris Asli Tulungagung Ini Wajib Kamu Coba!


Baca juga: Wisata Bahari Lamongan: Wahana, Jam Buka, dan Harga Tiket Terbaru


Faka Menarik Suku Abui di Alor, NTT


Dicuplik dari Kompas, Minggu (28/8/2022), berikut 5 fakta menarik Suku Abui di Alor NTT yang perlu Anda ketahui.


1. Memiliki Rumah Sakral di Tengah Kampung


Suku Abui di Alor ini menempati sedikitnya 14 unit rumah adat tradisional yang sangat khas. Rumah tersebut biasa disebut rumah lopo Suku Abui.


Suasana kampung Takpala, tempat tinggal Suku Abui di Alor, NTT
Suasana kampung Takpala, tempat tinggal Suku Abui di Alor, NTT. (Dok. Kemenpar RI)


Layaknya rumah pada umumnya, rumah lopo Suku Abui juga terdiri dari beberapa pembagian ruangan, seperti ruang tamu, dapur, kamar tidur, dan gudang penyimpanan hasil berkebun.


Namun, dalam satu kampung terdapat satu rumah yang dijuluki sebagai rumah sakral. Tempat rumah sakral berada persis di tengah kampung.


Rumah sakral ini hanya boleh dimasuki oleh sub-suku Marang, serta anak sulung dari sub-suku Kapitang dan Awenni, itupun hanya setahun sekali.


Sebagai informasi, ada tiga sub-suku Abui di Alor, yaitu Kapitang, Marang, dan Awenni.


Ada dua rumah sakral di kampung Suku Abui. Satu rumah dinamai Kolwat atau hitam, sedang satunya bernama Kanuruwat atau putih.


Saat ditelusuri, isi rumah sakral Suku Abui ternyata terdapat peninggalan leluhur Suku ABui, seperti alat musik besi yang dinamakan Moko, periuk nenek moyang Suku Abui, serta tombak perang.


Baca juga: Kali Pepe Land, Wisata Baru di Boyolali yang Mempesona


Baca juga: Studio MataHati Ceramics, Wisata Edukasi dan Galeri Keramik Kini Hadir di Batu


2. Hidup Tanpa Listrik


Suku Abui juga dikenal hidup tanpa fasilitas listrik hingga saat ini.


Sebagai gantinya, mereka membuat penerangan menggunakan obor yang terbuat dari bambu kering berisi buah jarak yang dibakar.


Hal ini sudah dilakukan secara turun-temurun hingga sekarang.


3. Bermata Pencaharian Berkebun


Mayoritas warga penduduk Suku Abui berprofesi sebagai tukang kebun.


Dari hasil tanaman mereka berupa jagung dan ubi itulah Suku Abui bertahan hidup.


Hal ini tentu berbeda dengan kebiasaan warga Alor lainnya yang kebanyakan mengandalkan hasil laut untuk bahan makanan.


Meski demikian, aktivitas berkebun Suku Abui hanya dilakukan oleh warga yang berusia muda. Sedangkan yang telah berusia lanjut menggantungkan hidupnya dengan memproduksi souvenir untuk dijual kepada wisatawan.


Baca juga: Wisata Edukasi, Media Seru di Malang untuk Refreshing Sambil Belajar


Baca juga: Skuter Listrik Strooter Lagi Hits, Kini Hadir di Kebun Raya Cibodas


Pakaian adat tradisional Suku Abui, Alor, NTT
Pakaian adat tradisional Suku Abui, Alor, NTT. (Dok. Kemenpar RI)


4. Dulu Dijuluki Pemburu Kepala Manusia


Julukan ini mungkin terdengar sadis, namun konon katanya dahulu Suku Abui memang mendapatkan julukan tersebut lantaran jago dalam berperang.


Namun tak usah khawatir, karena faktanya saat ini Suku Abui begitu ramah dan sangat terbuka kepada siapapun yang mengunjungi kampung mereka.


Artinya, julukan pemburu kepala manusia sudah tidak berlaku lagi bagi Suku Abui, ya!


Baca juga: Kenapa di Lampung Banyak Orang Suku Jawa? Ternyata Begini Sejarahnya!


Baca juga: Kenapa Nama Orang Jawa Banyak Berawalan Kata Su? Ternyata ini Maknanya!


5. Pertahankan Prinsip Hidup Tradisional


Adapun yang menjadi ciri khas tradisional yang masih dipertahankan Suku Abui saat ini adalah penggunaan atap alang-alang untuk desain rumah mereka.


Jika atap rumah tersebut rusak, maka warga Suku Abui akan menggantinya dengan alang-alang baru tanpa berniat untuk mengganti dengan bahan lainnya, seperti seng misalnya.


Yang lebih menarik lagi, wisatawan yang hendak memasuki kampung Suku Abui tidak dikenakan tarif khusus. Karena pengunjung boleh memberikan biaya secara sukarela.


Itulah 5 fakta menarik dari Suku Abui yang ada di Alor, NTT. Tertarik untuk mengunjungi tempat ini sobat Pewarta?


Dapatkan berita terkini lainnya, serta viral hari ini di Indonesia terbaru dan terpopuler dari Pewarta.co.id melalui platform Google News.
close